• Jumat, 23/3/2012 10:32
    SELAMA NYEPI, ATM di Bali Tak Beroperasi Tiga Hari
  • Jumat, 23/3/2012 10:23
    PENANGKAPAN TERORIS: Terduga Teroris Ditangkap di Sumedang Langsung Dibawa ke Jakarta
  • Jumat, 23/3/2012 10:11
    HARI NYEPI: 375 Polisi Amankan Hari Raya Nyepi di Jabar
  • Jumat, 23/3/2012 09:59
    TERORIS DITEMBAK: Keluarga AG, Akan Pastikan Jenazah Teroris Ditembak di Bali
  • Jumat, 23/3/2012 09:48
    WHITNEY HOUSTON Meninggal Akibat Tenggelam Setelah Konsumsi Kokain
  • Jumat, 23/3/2012 09:36
    TAWUR AGUNG, Mensucikan Diri Sebelum Hari Raya Nyepi
  • Jumat, 23/3/2012 09:15
    KERETA ANJLOK: Kereta Barang Babaranjang Anjlok, 1 Orang Tewas
  • Jumat, 23/3/2012 09:05
    SERANGAN TOMCAT: Warga Solo Diminta Tak Panik Tapi Waspada
  • Jumat, 23/3/2012 08:57
    THEOLOGI KEKERASAN: Al Iqtida’ Bi Akhlaqirrosul Bahas Peran Anak Bangsa
  • Jumat, 23/3/2012 08:51
    BOS DMDT: Jaksa Ajukan Kasasi Ke MA Atas Vonis Bebas Bos DMDT
  • Jumat, 23/3/2012 08:40
    KENAIKAN BBM: PDIP Jatim Galang Massa Untuk Aksi Penolakan 27 Maret
  • Jumat, 23/3/2012 07:18
    TOWER TELEKOMUNIKASI: Pemkot Diminta Buat Desain Menara Terpadu
  • Jumat, 23/3/2012 06:56
    LIGA SPANYOL: Malaga dan Sevilla Petik Kemenangan
  • Jumat, 23/3/2012 06:55
    ILMU GEOGRAFI: Ilmu Termarjinalkan, Sarjana Geografi Banyak Tak Terserap
  • Jumat, 23/3/2012 06:45
    SERUAN MOGOK HAKIM DAERAH: Hakim Agung Gayus Lumbun Minta Bersabar
  • Jumat, 23/3/2012 06:30
    ANTISIPASI KENAIKAN BBM: DPRD Desak Pemkot Lelang Proyek-Proyek Fisik
  • Jumat, 23/3/2012 06:23
    PENCABULAN: Ngaku Bujang di Facebook, Pemuda Tipu Gadis Remaja Luar Dalam

Thursday, January 6, 2011

10 Film Paling Dinanti di 2011


Memasuki tahun 2011, setelah menyampirkan harapan tinggi-tinggi pada resolusi yang akan kita capai di Tahun Kelinci ini, ada baiknya kita simak beberapa film-film spektakuler Hollywood yang “layak tonton” dan pantas masuk dalam rekomendasi sepanjang tahun 2011. Banyak diantaranya merupakan sekuel atau prekuel film sukses sebelumnya. Ini dia 10 film pilihan terbatas yang masuk dalam daftar film prioritas yang akan saya tonton tahun ini (moga-moga selera saya selaras pula dengan selera anda):

Green Hornet (Januari 2011) :
Seth Rogen (Knocked Up, Pinneaple Express) berperan sebagai Britt Reid pahlawan bertopeng Green Hornet dalam film yang diarahkan oleh sutradara Michael Gondry ini. Britt adalah putra seorang pemilik surat kabar dan dalam aksinya ia ditemani oleh karyawan ayahnya, Kato (peran ini pernah dimainkan pula oleh alm. Bruce Lee) yang diperankan oleh artis Taiwan, Jay Chou. Dikisahkan dalam film yang diangkat dari serial Radio ciptaan George W Trendle berjudul sama dan akan rilis pertengahan Januari ini, Sejak kematian ayahnya yang misterius, Britt Reid,anak pemilik surat kabar terkenal di Los Angeles yang dulunya adalah pemuda yang senang berhura-hura akhirnya menyadari bisa berbuat sesuatu yang bermakna untuk hidup. Ditemani oleh Kato mereka berkeliling kota membasmi kejahatan dengan mengendarai The Black Beauty, mobil ciptaan Kato yang canggih dan tak mudah dihancurkan. Film ini dimeriahkan pula oleh Cameron Diaz, yang berperan sebagai Lenore Chase (sekretaris Britt)

Fast and Furious V (April 2011) :
Vin Diesel dan Paul Walker akan kembali beraksi dalam film kebut-kebutan mobil dengan adegan-adegan berbahaya memacu adrenalin yang disutradarai oleh Justin Lin dan skenarionya ditulis oleh Chris Morgan ini. Petualangan Dominic Toretto dan Brian O’Conner yang melarikan diri dari petugas hukum akan menjadi daya tarik film yang akan dirilis pada akhir April 2011 ini.

Kungfu Panda II (Mei 2011) :
Sekuel Kungfu Panda ini dipastikan akan menarik banyak penonton untuk menyaksikannya di bioskop. Po (suaranya diisi oleh Jack Black) Sang pendekar Panda menghadapi Lord Shen (Gary Oldman) yang memiliki sebuah senjata rahasia yang sangat berbahaya. Lord Shen terobsesi untuk menguasai seluruh negeri dan berencana menghancurkan ilmu bela diri Kung Fu. Po mendapat bantuan dari The SoothSayer (Michelle Yeoh), Master Skunkman (James Woods), Master Croc (Jean-Claude Van Damme), dan Master Thundering Rhino oleh (Victor Garber) . Aksi-aksi seru dan lucu PO bersama kawan-kawannya menggagalkan rencana jahat Lord Shen itu ditampilkan secara ciamik dalam film ini.

Pirates of Caribbean : On the Strangers Tide (Mei 2011)
Kapten Jack Sparrow (Johny Deep) berpetualang bersama Angelica (Penelope Cruzz) mencari mata air kehidupan yang konon tidak membuat seseorang bertambah tua sedikitpun. Masalah kian runyam ketika Jack menyadari bahwa Angelica tak lain adalah putri dari bajak laut Blackbeard (Ian McShane), musuh besar Jack Sparrow. Tapi perjalanan sudah dimulai dan Jack tak akan mengurungkan niatnya sedikitpun untuk melaksanakan niatnya.

X-Men : First Class (Juni 2011) :
Penggemar Wolverine (diperankan oleh Hugh Jackman) mesti bersiap-siap kecewa dalam film yang merupakan prekuel dari film-film X-Men sebelumnya karena tokoh tersebut tidak muncul dalam film ini. X-Men : First Class memang mengisahkan awal mula epik X-Men yakni mengangkat masa muda Charles Xavier dan Erik Magnus Lensherr sebelum didirikannya Xavier School For Gifted Youngster . School of Mutant Resources mereka dirikan seusai menamatkan sekolah di Oxford untuk meneliti dan mempelajari fenomena baru yang terjadi pada manusia yaitu “homo superior”, yaitu manusia jenis mutan yg memiliki gen X. Siswa yang belajar di sekolah khusus itu awalnya adalah Jean Grey, Scott Summers, Hank McCoy, Ororo Munroe, Raven Darkholme, Mortimer Toynbee dan Emma Frost. Perbedaan pemahaman dan idealisme membuat kedua sahabat ini menuai konflik hingga akhirnya justru menjadi seteru yang saling menghancurkan.

Harry Potter and The Deathly Hallows, Part 2 (Juli 2011) :
Ini adalah film yang ditunggu-tunggu oleh para penggemar Harry Potter sebagai edisi pamungkas rangkaian film Harry Potter sebelumnya, setelah sebelumnya mengikuti episode pertama menjelang akhir tahun 2010. Film ini masih tetap diperankan oleh Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint.

Transformers 3 : Dark Of The Moon (Juli 2011) :
Dua serial film Transformers sebelumnya berhasil menuai sukses besar dan pada episode ketiga ini para penggemar Megan Fox harus siap-siap kecewa karena artis sexy yang pada 2 episode sebelumnya berperan sebagai Mikaela Banes, kekasih sang tokoh utama, Sam Witwicky, tidak terlibat dalam Transformer 3. Meski tanpa Megan Fox lagi, film ini kembali akan menggelar aksi-aksi spektakuler dan efek sinematografi canggih lebih dashyat dari 2 film sebelumnya. Jadi bersiaplah saksikan kehebatan robot Optimus Prime, Bumble Bee, Iron Hide, Ratchet, Sides Wipes,Megatron, Starscream, dan Soundwave berjibaku dalam film ini.

Captain America : The First Avenger (Agustus 2011) :
Chris Evans pemeran manusia api dalam film “Fantastic Four” akan berperan sebagai Steve Rogers alias Captain America. Kisah ini menampilkan setting tahun 1940-an dimana Steve Rogers – seorang prajurit yang tidak bisa turun ke medan perang untuk melawan Nazi karena fisiknya dianggap tidak layak—diminta untuk menjalani sebuah program rahasia militer yang dapat mengubah dirinya menjadi manusia super.

Spy Kids 4: All The Time in the World (Agustus 2011) :
Jessica Alba akan berperan sebagai Marissa Cortez Wilson (Jessica Alba) mantan agen rahasia yang menikah dengan reporter televisi pemburu agen mata-mata terkenal Wilbur (Joel McHale) dan ibu tiri dari dua anak kembar yang sangat cerdas Rebecca (Rowan Blanchard) dan Cecil (Mason Cook) dalam film Spy Kids 4 yang disutradarai oleh Robert Rodriguez. Jeremy Piven yang berperan sebagai tokoh antagonis dalam film ini mengancam akan mengambil alih bumi dan menghentikan waktu. Marissa dipanggil oleh Markas Besar OSS untuk mencegah aksi kejahatan tersebut dengan didampingi oleh Carmen (Alexa Vega) dan adiknya Juni Cortez (Daryl Sabara), anggota Spy Kids yang sudah beranjak remaja.

Mission Impossible 4: Ghost Protocol (Desember 2011) :
Aktor tampan Tom Cruise kembali akan membintangi film kolosal Mission Impossible IV berjudul “Ghost Protocol” yang rencananya akan ditayangkan perdana oleh Paramount Pictures 6 Desember 2011. Pada film yang gambarnya diambil di Dubai, Praha dan Canada ini, Tom akan didampingi oleh artis pendukung seperti Aktor Jeremy Renner dan aktris Paula Patton.

Akhir 2011 Diramalkan Total Manusia 7 Miliar


Pada suatu hari musim gugur 1677 di Delft, Belanda, Antoni van Leeuwenhoek, saudagar kain yang konon berperan sebagai model berambut panjang bagi dua lukisan karya Johannes Vermeer—lukisan “Ahli Astronomi” dan “Ahli Geografi”—mendadak berhenti mencumbui istrinya dan tergesa menuju meja kerjanya. Kain memang bidang usaha Leeuwenhoek, tetapi mikroskopi adalah minatnya.

Dia sudah punya lima anak dari istri pertamanya (meskipun yang empat orang meninggal saat masih bayi), dan bukan soal menjadi ayah yang memenuhi pikirannya. “Sebelum enam kali denyutan,” (begitu yang dia tulis kemudian kepada Royal Society of London) Leeuwenhoek memeriksa sampel air maninya sendiri—zat yang mudah rusak itu—melalui kaca pembesar yang kecil ukurannya. Lensanya, yang tidak lebih besar daripada setetes kecil air hujan, dapat memperbesar benda sampai ratusan kali. Kaca pembesar itu juga dia buat sendiri dan saat itu tak seorang pun yang memiliki lensa sekuat lensa miliknya.

Pada masa itu, para cendekiawan di London masih berusaha meneliti keabsahan klaim Leeuwenhoek sebelumnya yang menyatakan bahwa jutaan “animalkul” (animalcules, istilah Leewenhoek bagi mikroorganisma) yang tidak kasat mata hidup dalam setetes air danau dan bahkan dalam setetes anggur Prancis. Di hari itulah Leewenhoek memiliki satu hal lain yang lebih rumit untuk dilaporkan. Yaitu, air mani manusia juga mengandung animalkul. “Kadang lebih dari seribu dalam sejumput materi yang ukurannya sebesar satu butir pasir,” tulis Leewenhoek.

Sambil menempelkan kaca pembesar ke matanya seperti seorang pandai perhiasan, Leeuwenhoek melihat animalkul miliknya berenang-renang sambil mengibas-ngibaskan ekornya yang panjang. Bayangkan cahaya matahari menerobos melalui kerai kaca jendela, berlabuh di wajah yang tercenung, seperti pada lukisan Vermeers. Sungguh kasihan sang istri.

Setelah itu, Leeuwenhoek menjadi agak terobsesi. Lubang intipnya yang sangat kecil itu memberi Leewenhoek hak istimewa dalam mengakses dunia mikroskopik yang belum pernah dilihat orang lain dan dia menghabiskan banyak sekali waktu mengamati spermatozoa, itulah nama yang kita gunakan sekarang. Namun yang sungguh terasa ganjil, justru cairan mani yang dia peras dari seekor ikan cod-lah yang kemudian mengilhaminya untuk menaksir, hampir secara sambil lalu, berapa banyak manusia bisa menghuni Bumi.

Tidak seorang pun paham apa yang Leewenhoek maksudkan, antara lain karena belum banyak sensus dilakukan pada waktu itu. Leeuwenhoek memulainya dengan taksiran bahwa sekitar satu juta orang tinggal di Belanda. Dengan menggunakan peta dan sedikit ilmu geometri bidang lengkung, dia menghitung bahwa kawasan daratan yang berpenghumi di Bumi luasnya 13.385 kali luas Belanda. Waktu itu sungguh sulit membayangkan Bumi yang seluruhnya sepadat negeri Belanda, yang bahkan di masa itu pun sepertinya sudah sangat padat.

Jadi, Leeuwenhoek menyimpulkan dengan penuh rasa kemenangan, Bumi tidak mungkin dihuni lebih dari 13.385 miliar orang—jumlah yang kecil jika dibandingkan dengan 150 miliar sel sperma yang menghuni seekor ikan cod! Hasil perhitungan yang riang gembira tersebut, begitu tulis ahli biologi populasi Joel Cohen dalam bukunya How Many People Can the Earth Support?, mungkin merupakan upaya pertama yang memberikan jawaban kuantitatif terhadap pertanyaan yang kini kian mengecilkan hati jika dibandingkan pada masa abad ke-17. Pasalnya, kebanyakan jawaban di masa sekarang ini sama sekali tidak menggembirakan.

Kini para ahli sejarah memperkirakan bahwa di masa Leeuwenhoek hanya ada sekitar setengah miliar manusia di Bumi. Saat itu, jumlah manusia baru saja melesat setelah peningkatan yang sangat lambat selama ribuan tahun. Satu setengah abad kemudian, ketika penemuan sel telur manusia dilaporkan, penduduk dunia telah bertambah lebih dari dua kali lipat menjadi lebih dari satu miliar jiwa. Satu abad setelah itu, sekitar 1930, jumlah manusia kembali berlipat dua menjadi dua miliar. Akselerasi pertambahan sejak itu sungguh mencengangkan. Sebelum abad ke-20, belum pernah ada manusia yang di masa hidupnya menyaksikan penduduk Bumi bertambah dua kali lipat, padahal banyak orang yang hidup sekarang menyaksikan jumlah manusia bertambah sampai tiga kali lipat. Kelak di akhir 2011, menurut Divisi Populasi PBB, akan ada tujuh miliar manusia.

Ledakan penduduk itu sama sekali belum usai, meski kini tengah melambat. Penyebabnya bukan saja karena manusia hidup lebih lama, tetapi karena banyak sekali perempuan di seluruh dunia yang sekarang ini berada dalam usia subur—1,8 miliar—sehingga penduduk dunia bakal terus tumbuh setidaknya selama beberapa dasawarsa mendatang. Hal itu akan berlangsung meski setiap perempuan memiliki lebih sedikit anak dibandingkan dengan satu generasi yang lalu. Pada 2050 jumlah total manusia bisa mencapai 10,5 miliar atau mungkin juga berhenti di angka delapan miliar—perbedaannya ada pada satu anak per seorang perempuan. Para ahli demografi PBB menganggap angka di tengah-tengah merupakan perkiraan terbaik: mereka sekarang memperkirakan penduduk Bumi dapat mencapai sembilan miliar sebelum 2050—pada 2045. Angka akhir akan bergantung pada pilihan masing-masing pasangan ketika mereka melakukan kegiatan antarmanusia yang paling intim itu, kegiatan yang secara serampangan dihentikan Leeuwenhoek demi ilmu pengetahuan.

Dengan penduduk yang masih terus bertambah sekitar 80 juta jiwa per tahun, sulit rasanya untuk tidak merasa prihatin. Saat ini di Bumi, air tanah harus dicari semakin dalam, tanah terus terkikis, gletser terus meleleh, dan jumlah ikan kian menyusut. Hampir satu miliar orang kelaparan setiap hari. Beberapa puluh tahun dari sekarang, mungkin akan ada dua miliar manusia yang butuh makan, kebanyakan di negara miskin. Akan makin banyak orang, dalam jumlah miliaran, yang ingin dan layak mengentaskan diri dari kemiskinan. Jika mereka mengikuti jalan yang dirintis oleh negara kaya—membuka hutan, membakar batubara dan minyak, dengan bebas menebarkan pupuk dan pestisida—mereka pun akan memanfaatkan habis-habisan sumber daya alam planet ini. Bagaimanakah caranya untuk mendapatkan makanan?

Mungkin agak melegakan hati saat mengetahui bahwa sesungguhnya sudah lama orang mengkhawatirkan masalah populasi. Beberapa di antara tulisan awal tentang demografi ditulis oleh Sir William Petty, pendiri Royal Society, hanya beberapa tahun setelah penemuan Leeuwenhoek. Dia memperkirakan, penduduk dunia akan tumbuh 12 kali lipat menjelang hari kiamat yang diperkirakan sekitar 2000 tahun lagi. Pada sat itu jumlah manusia akan lebih dari 20 miliar—lebih dari yang bisa diberi makan oleh Bumi. “Dan, menurut ramalan Alkitab, pasti ada peperangan, pembantaian besar-besaran, dan sebagainya,” begitu tulis Petty. Memang sejak awal, begitu dikatakan ahli demografi asal Prancis Hervé Le Bras, demografi terperosok dalam diskusi perihal “hari akhir”.

Di saat ramalan agama tentang akhir dunia mulai mereda, Le Bras menyatakan, persoalan pertumbuhan penduduk saja sudah memunculkan mekanisme semu tentang kiamat. “Hal tersebut mengkristalkan ketakutan purba dan mungkin harapan purba tentang hari akhir,” tulis Le Bras. Pada 1798, pendeta Inggris yang juga ahli ekonomi Thomas Malthus mengemukakan hukum populasinya: populasi memang perlu tumbuh lebih cepat daripada pertumbuhan pasokan pangan, sampai perang, penyakit, dan wabah kelaparan tiba untuk mengurangi jumlah manusia. Kenyataannya, wabah cukup besar yang menurunkan populasi manusia secara signifikan sudah pernah terjadi saat Malthus menuliskan pendapatnya. Sejak peristiwa Kematian Hitam di abad ke-14 itu, penduduk dunia belumlah lagi berkurang, begitu menurut para ahli sejarah.

Dalam kurun dua abad setelah Malthus mengumumkan bahwa populasi tidak mungkin terus tumbuh pesat, justru yang sebaliknyalah yang terjadi. Prosesnya dimulai di kawasan yang sekarang kita sebut sebagai negara maju, yang saat itu tengah berkembang. Penyebaran hasil bumi dari benua Amerika seperti jagung dan kentang, sejalan dengan ditemukannya pupuk kimia, membantu mengakhiri wabah kelaparan di Eropa. Kota-kota yang terus berkembang pada mulanya masih tetap merupakan kawasan kumuh penyebar penyakit, tetapi sejak pertengahan abad ke-19, saluran pembuangan mulai mengalirkan limbah manusia menjauhi sumber air minum yang kemudian disaring dan diklorinasi; hal itu secara dramatis mengurangi penyebaran kolera dan tifus.

Selanjutnya, pada 1798, tahun yang sama saat Malthus menerbitkan tulisannya yang membuat pesimistis, rekan senegaranya Edward Jenner memperkenalkan vaksin untuk cacar air—yang pertama dan yang terpenting dalam serangkaian vaksin dan antibiotika yang, di samping nutrisi dan sanitasi yang lebih baik, menggandakan harapan hidup di Negara-negara maju, dari 35 tahun menjadi 77 tahun saat ini. Hanya orang berpandangan pesimis sajalah yang melihat kecenderungan itu sebagai sesuatu yang suram: “Perkembangan ilmu kedokteran ibarat akhir dari rangkaian peristiwa dan menjadi awal munculnya malapetaka,” tulis Paul Ehrlich, ahli biologi dari Stanford, pada 1968.

Buku Ehrlich, The Population Bomb, membuatnya menjadi pendukung Malthus modern yang paling terkenal. Pada 1970-an, Ehrlich meramalkan, “ratusan juta orang akan mati kelaparan,” dan sudah terlambat untuk menanggulanginya. “Kanker pertumbuhan penduduk … harus dibuang,” tulis Ehrlich, “dengan cara paksa jika secara sukarela tidak berhasil.” Masa depan Amerika Serikat benar-benar menghadapi risiko. Meski buku itu ditulis dengan gaya bahasa yang seperti itu—atau mungkin justru karena gaya bahasanya yang seperti itu—buku tersebut menjadi laris, sebagaimana juga buku Malthus dahulu. Kali ini pun bom tersebut tidak meledak. Revolusi hijau—kombinasi antara benih tanaman unggul, irigasi, pestisida, dan pupuk yang berhasil melipatgandakan hasil panen biji-bijian—sudah digunakan. Dewasa ini memang banyak orang menderita malagizi, tetapi wabah kelaparan besar-besaran jarang terjadi.

Hanya saja, Ehrlich juga benar ketika menyatakan bahwa populasi akan membengkak di saat ilmu kedokteran berhasil menyelamatkan hidup banyak orang. Setelah Perang Dunia II, Negara berkembang mendadak menerima banjir bantuan kesehatan, atas bantuan sejumlah lembaga seperti WHO dan UNICEF. Penisilin, vaksin cacar, DDT (yang, meski kemudian menjadi kontroversial, berhasil menyelamatkan jutaan jiwa dari kematian akibat malaria)—semuanya tiba serentak pada waktu yang bersamaan.

Di India, harapan hidup meningkat dari 38 tahun pada 1952 menjadi 64 saat ini; di Cina, dari 41 menjadi 73. Jutaan orang di negara berkembang yang semula cenderung meninggal saat masih anak-anak sekarang bisa bertahan hidup sampai mereka bisa melahirkan anak sendiri. Itulah sebabnya mengapa ledakan penduduk menyebar ke seluruh Bumi: karena banyak sekali orang selamat dari kematian. Juga karena pada kurun waktu tertentu kaum perempuan melahirkan banyak sekali anak. Di Eropa pada abad ke-18 atau di Asia pada awal abad ke-20, ketika perempuan rata-rata punya enam orang anak, itu dilakukan sebagai pengganti dirinya dan pasangannya. Sebab, kebanyakan dari anak-anak itu tidaklah pernah mencapai usia dewasa.

Ketika angka kematian anak menurun, pasangan suami-istri pun memiliki lebih sedikit anak—tetapi umumnya, transisi ini paling tidak memakan waktu satu generasi. Dewasa ini di negara maju, angka kelahiran rata-rata 2,1 anak per seorang perempuan dapat membuat populasi ajeg; di dunia berkembang, angka tersebut agak sedikit lebih besar. Hanya saja dalam kurun waktu yang dibutuhkan agar angka kelahiran mencapai keseimbangan dengan angka kematian, jumlah penduduk bakal telah meningkat dengan pesat.

Para ahli demografi menamakan evolusi tersebut dengan transisi demografi. Semua negara mengalami hal itu pada waktunya masing-masing. Ini merupakan ciri khas proses kemajuan umat manusia: di negara yang sudah menyelesaikan transisinya, warganya berhasil mengambil-alih dari alam sekurang-kurangnya kendali atas kematian dan kelahiran. Ledakan penduduk dunia adalah efek samping yang tak terelakkan, efek samping yang begitu besar yang menyebabkan sebagian orang merasa tidak yakin bahwa peradaban kita akan mampu bertahan. Namun, laju pertumbuhan sudah mencapai puncaknya seperti yang diperingatkan Ehrlich. Pada awal 1970-an, angka kesuburan di seluruh dunia mulai menurun lebih cepat daripada yang diperkirakan orang sebelumnya. Sejak itu, laju pertumbuhan penduduk pun menurun lebih dari 40 persen.

Menurunnya angka kelahiran yang sekarang melanda dunia dimulai pada waktu yang berbeda di tiap negara. Prancis adalah salah satu negara yang paling awal mengalaminya. Pada awal abad ke-18, kaum perempuan ningrat Prancis tetap menikmati hubungan seksual tanpa berdampak pada mengandung lebih dari dua anak. Mereka sering mengandalkan metode sama yang digunakan Leeuwenhoek untuk penelitiannya: sanggama terputus. Arsip gereja di pedesaan menunjukkan bahwa kecenderungan ini merebak hingga ke penduduk desa pada akhir abad ke-18; pada akhir abad ke-19, angka kelahiran di Prancis menurun menjadi tiga anak per seorang perempuan—tanpa bantuan alat kontrasepsi modern. Inovasi utamanya bersifat konseptual, bukan kontraseptif, kata Gilles Pison dari Lembaga Nasional untuk Kajian Kependudukan di Paris. Sebelum abad Pencerahan, “jumlah anak yang kaumiliki adalah takdir Tuhan. Orang belum mengerti bahwa jumlah anak bisa mereka tentukan.”

Negara Barat lainnya pada akhirnya meneladani Prancis. Pada awal Perang Dunia II, angka kelahiran menurun sampai mendekati angka kematian di sebagian Eropa dan AS. Kemudian, setelah terjadinya lonjakan angka kelahiran sesaat yang mencengangkan yang dikenal sebagai baby boom di AS, terjadi penurunan tajam yang lagi-lagi mengejutkan para ahli demografi. Mereka berasumsi bahwa ada naluri yang menyebabkan kaum perempuan tetap melahirkan jumlah anak yang cukup untuk memastikan penyintasan spesies manusia. Alih-alih, di negara maju angka kelahiran menurun sampai di bawah angka kematian. Pada akhir 1990-an di Eropa, angka tersebut turun sampai di bawah 1,4. “Bukti yang saya pahami benar, yang sifatnya jenaka, adalah bahwa kaum perempuan sama sekali tidak peduli perihal penyintasan spesies,” kata Joel Cohen.

Akhir suatu periode ledakan penduduk atau baby boom dapat memberikan dua dampak besar dalam bidang ekonomi suatu negara. Yang pertama adalah “keuntungan demografi”—beberapa dasawarsa yang indah ketika penduduk yang dilahirkan saat masa ledakan tersebut memperbesar angkatan kerja dan jumlah orang muda, sementara orang tua yang tidak bekerja relatif sedikit sehingga terdapat banyak dana untuk memenuhi keperluan lain. Kemudian, dampak kedua menyentak: Penduduk yang dilahirkan di periode ledakan tersebut mulai memasuki masa pensiun. Hal yang semula dipandang sebagai tatanan demografi yang mapan ternyata harus berakhir. Perdebatan sengit di Amerika tentang Jaminan Sosial serta pemogokan tahun lalu di Prancis tentang peningkatan usia pensiun merupakan reaksi terhadap masalah yang ada di seluruh kawasan negara maju: bagaimana mendukung populasi yang beranjak tua. “Pada 2050, apakah terdapat cukup banyak orang yang bekerja sehingga tersedia dana untuk membayar uang pensiun?” tanya Frans Willekens, direktur Institut Demografi Interdisipliner Belanda di Den Haag. “Jawabannya tidak.”

Negara maju perlu waktu beberapa generasi untuk menurunkan angka kelahiran hingga menyamai atau lebih rendah dari angka kematian. Saat transisi yang sama berlangsung di kawasan lainnya, para ahli demografi tercengang karena betapa jauh lebih cepatnya hal itu terjadi. Meski penduduknya terus tumbuh, China yang dihuni oleh seperlima penduduk dunia sudah berhasil menurunkan angka kelahiran sampai di bawah angka kematian dan hal itu sudah berlangsung selama hampir 20 tahun, antara lain berkat kebijakan paksa satu-anak yang diterapkan pada 1979; perempuan China yang rata-rata masih punya enam anak pada 1965, sekarang hanya punya 1,5. Di Iran, dengan dukungan penguasa Islam, angka kelahiran turun lebih dari 70 persen sejak awal 1980-an. Di Brasil yang demokratis dan penduduknya penganut Katolik, kaum perempuan berhasil menurunkan angka kesuburan menjadi tinggal separuhnya dalam tempo seperempat abad. “Kami masih belum memahami benar mengapa angka kelahiran menurun begitu cepat di begitu banyak masyarakat, di begitu banyak budaya dan agama. Ini benar-benar mencengangkan,” kata Hania Zlotnik, direktur Divisi Kependudukan PBB.

“Pada saat ini, meskipun saya ingin bisa mengatakan bahwa masih ada masalah tingginya angka kelahiran, hal itu hanya dialami oleh 16 persen penduduk dunia, kebanyakan di Afrika,” kata Zlotnik. Di Sahara Selatan, angka kelahiran memang masih tetap lima anak per seorang perempuan, sementara di Niger tujuh. Akan tetapi, 17 negara di wilayah itu masih memiliki harapan hidup 50 tahun atau kurang; mereka baru memulai transisi demografi. Namun, di kebanyakan bagian dunia yang lain, ukuran keluarga menyusut secara dramatis. PBB memperkirakan dunia akan mencapai keseimbangan angka kelahiran-kematian pada 2030. “Keseluruhan penduduk dunia sedang berada dalam jalur menunju kestabilan—dan ini berarti kabar baik,” ujar Zlotnik.

Kabar buruknya adalah bahwa 2030 hanya tinggal dua dasawarsa lagi dan bahwa pada saat itu generasi remaja—yang terbesar dalam sejarah—akan memasuki masa subur. Bahkan seandainya pun setiap perempuan di masa itu hanya punya dua anak, populasi bakal melesat menurut momentumnya sendiri yang akan berlangsung selama sekitar seperempat abad. Apakah bencana besar akan segera terjadi, atau apakah orang di masa itu akan bisa hidup secara manusiawi dengan cara yang tidak merusak lingkungan? Satu hal yang sudah pasti: hampir seperenam dari penduduk dunia pada masa itu tinggal di India.

Secara intelektual, saya sudah lama memahami soal ledakan penduduk. Secara emosional, saya memahaminyapada suatu malam yang panas di Delhi dua tahun silam … Suhu udara jauh di atas 100 [sekitar 40 derajat Celsius] dan udara dipenuhi debu dan asap. Jalanan tampak hidup oleh manusia yang lalu-lalang. Orang sedang makan, orang sedang mencuci, orang sedang tidur. Orang bertamu, berdebat, dan berteriak. Orang mengulurkan tangan melalui jendela taksi, mengemis. Orang buang air besar dan kecil. Orang bergelantungan di bus. Orang menggembalakan ternak. Orang, orang, orang, orang.—Paul Ehrlich

Pada 1966 itu, ketika Ehrlich tengah naik taksi, penduduk India berjumlah setengah miliar jiwa. Sekarang jumlahnya 1,2 miliar. Penduduk Delhi bahkan bertambah lebih cepat lagi, menjadi sekitar 22 juta karena gelombang pendatang membanjir dari kota kecil serta pedesaan, dan semuanya menjejali kawasan “kota gubug” yang terus membengkak itu. Awal Juni silam di kota panas yang berbau busuk tersebut, musim hujan belum tiba untuk membasuh debu dari daerah pembangunan yang tak terhitung banyaknya, yang hanya menambah banyak debu yang berhembus dari gurun Rajasthan. Di jalan-jalan raya baru yang terbagi dua, yang menggiring orang memasuki kota tak terencana itu, gerobak sapi berjalan ke arah yang salah di jalur cepat. Keluarga-keluarga yang terdiri atas empat orang meluncur di atas sepeda motor, selendang perempuan berkibar-kibar seperti bendera, anak balita bergelantungan di lengan ibunya. Keluarga yang terdiri atas belasan orang berdesakan seperti ikan sarden di dalam bemo berwarna kuning-hitam yang berisik, yang dirancang untuk dua penumpang. Di jalanan yang macet, pengemis berkaki satu dan anak kecil bertubuh kurus kering meratap-ratap meminta derma. Delhi masa kini tumbuh berbeda dengan kota yang pernah dikunjungi Ehrlich, namun juga boleh dikatakan tetap sama.

Di Rumah Sakit Lok Nayak, di tepi jalanan kecil kawasan yang semrawut dan padat manusia yakni Old Delhi, gelombang manusia mengalir memasuki gerbang setiap pagi dan kerumunan orang memenuhi lantai lobi. “Siapakah yang menyaksikan ini yang tidak mengkhawatirkan populasi India?” tanya dokter bedah Chandan Bortamuly di suatu siang sambil berjalan menuju klinik vasektomi. “Populasi adalah masalah kami yang terbesar.” Sambil melepaskan gembok dari pintu klinik, Bortamuly melangkah masuk ke kamar operasi yang kecil. Di dalamnya, dua lelaki berbaring terlentang di tempat tidur untuk diperiksa, buah zakar mereka menonjol di atas lubang pada kain berwarna hijau. Kipas angin di langit-langit mengembuskan udara sejuk dari dua unit AC di kamar.

Bortamuly berada di garis depan pertempuran yang sudah berlangsung di India selama hampir 60 tahun. Pada 1952, hanya lima tahun setelah meraih kemerdekaannya dari Inggris, India menjadi negara pertama yang menetapkan kebijakan pengendalian penduduk. Sejak itu, pemerintah India telah berkali-kali menetapkan sasaran yang ambisius—dan berulang kali pula gagal memenuhinya. Kebijakan nasional yang dianut pada 2000 menargetkan India mencapai angka kelahiran 2,1 pada 2010 dan ternyata target tersebut tidak akan tercapai setidaknya satu dasawarsa lagi. Dalam proyeksi moderat yang disampaikan PBB, penduduk India akan meningkat hingga lebih dari 1,6 miliar pada 2050. “Yang tak terelakkan adalah bahwa India akan melebihi China pada 2030,” kata AR Nanda, mantan kepala Yayasan Kependudukan India, sebuah kelompok penasihat. “Hanya malapetaka besar, bencana nuklir, dan sejenis itu sajalah yang dapat mengubahnya.”

Sterilisasi adalah bentuk pengendalian kelahiran yang dominan di India dewasa ini dan sebagian besar dilaksanakan terhadap kaum perempuan. Pemerintah sedang berusaha mengubah hal tersebut; vasektomi tanpa pisau bedah memerlukan biaya jauh lebih kecil dan lebih mudah dilakukan pada lelaki dibandingkan dengan pengikatan saluran Fallopia pada perempuan. Di kamar operasi, Bortamuly bekerja dengan cepat. “Tusukan jarum rasanya seperti gigitan semut,” dia menjelaskan ketika pasien pertama meringis saat disuntik obat anestetik lokal. “Setelah itu, boleh dikatakan tindakan pembedahan ini tidak terasa sakit dan tidak berdarah.” Dengan menggunakan ujung runcing alat tang, Bortamuly membuat lubang kecil di kulit skrotum, lalu menarik saluran vas deferens berupa tali putih berbentuk huruf U—saluran sperma dari buah zakar kanan si pasien. Dia mengikat kedua ujung tali berbentuk U itu dengan benang hitam halus, memotong kedua ujung itu, lalu memasukkannya kembali ke bawah kulit. Dalam waktu kurang dari tujuh menit—seorang perawat mencatat waktunya—pasien sudah berjalan keluar ruangan tanpa dipasangi apa-apa, bahkan juga tidak perlu diplester dengan tensoplas. Pemerintah akan member si pasien insentif sebesar 1.100 rupee (sekitar Rp250.000), upah seminggu yang biasa diterima seorang buruh.

Pemerintah India pernah menggalakkan vasektomi ketika kecemasan akan ledakan penduduk tengah memuncak pada 1970-an. Perdana Menteri Indira Gandhi dan putranya Sanjay menggunakan dekrit negara-dalam-keadaan-darurat untuk memaksakan peningkatan dramatis dalam pelaksanaan sterilisasi. Dari 1976 hingga 1977 jumlah operasi tersebut berlipat tiga, mencapai lebih dari delapan juta. Lebih dari enam juta di antaranya adalah vasektomi. Petugas program keluarga berencana ditekan untuk memenuhi kuota; di beberapa negara bagian, sterilisasi menjadi persyaratan untuk menerima rumah baru atau tunjangan pemerintah lainnya. Dalam beberapa kasus, polisi cukup mengumpulkan orang miskin dan menggiring mereka ke klinik sterilisasi. Tindakan yang berlebihan itu menyebabkan seluruh konsep keluarga berencana menyandang nama buruk. “beberapa pemerintahan selanjutnya tidak mau menyentuh perkara itu lagi,” ujar Shailaja Chandra, mantan ketua National Population Stabilisation Fund (NPSF). Namun, tetap saja angka kelahiran di India menurun, meski tidak secepat di Cina yang menukik sangat tajam bahkan sebelum kebijakan satu-anak yang kejam itu dilaksanakan. Angka rata-rata nasional di India sekarang adalah 2,6 anak per seorang perempuan, penurunan lebih dari 50 persen jika dibandingkan saat kunjungan Ehrlich dulu. Bagian selatan negara itu dan beberapa negara bagian di sebelah utara sudah berhasil mencapai angka keseimbangan atau lebih kecil lagi.

Di Kerala, pesisir barat daya India, investasi dalam bidang kesehatan dan pendidikan ikut menurunkan angka kelahiran hingga mencapai 1,7. Kuncinya, begitu kata para ahli demografi di sana, adalah angka melek huruf kaum perempuan: angkanya sekitar 90 persen, jelas yang tertinggi di India. Anak gadis yang bersekolah mulai melahirkan anak di usia yang lebih matang dibandingkan dengan anak gadis yang tidak bersekolah. Mereka lebih mudah menerima kontrasepsi dan cenderung lebih memahami pilihan mereka tentang metode keluarga berencana.

Sampai sejauh ini pendekatan tersebut, yang disajikan sebagai model di ajang internasional, belum populer di sejumlah negara bagian di India utara—di kawasan “sabuk Hindi” yang terentang melintasi negeri, tidak jauh di selatan Delhi. Hampir separuh pertumbuhan penduduk India terjadi di Rajasthan, Madhya Pradesh, Bihar, dan Uttar Pradesh, dan di kawasan itu angka kelahiran masih bertengger antara tiga dan empat anak per seorang perempuan. Lebih dari separuh perempuan di kawasan sabuk Hindi buta huruf dan banyak yang sudah menikah saat usianya masih jauh di bawah usia yang sah untuk menikah, yakni 18 tahun. Mereka meraih status sosial dengan memiliki anak—dan tidak berhenti sampai memiliki sekurang-kurangnya seorang anak lelaki.

Sebagai alternatif model Kerala, ada yang menunjuk ke negara bagian Andhra Pradesh di selatan; di sana “tenda” sterilisasi—kamar operasi darurat yang sering dibangun di sekolah-sekolah—diperkenalkan pada 1970-an dan angka sterilisasi masih tetap tinggi ketika rumah sakit yang kemudian diperbaiki menggantikan tenda sterilisasi. Dalam kurun waktu satu dasawarsa yang dimulai pada awal 1990-an, angka kelahiran mulai turun dari sekitar tiga menjadi kurang dari dua. Tidak seperti di Kerala, separuh dari semua perempuan di Andhra Pradesh tetap buta huruf.

Amarjit Singh, direktur pelaksana NPSF saat ini, memperhitungkan bahwa jika keempat negara bagian terbesar di sabuk Hindi menerapkan model Andhra Pradesh, mereka bisa menepis 40 juta kelahiran—dan penderitaan yang berat. “Karena 40 juta bayi dilahirkan, 2,5 juta anak meninggal,” ujar Singh. Menurut pendapatnya, jika seluruh India melaksanakan program bermutu tinggi untuk menggalakkan sterilisasi, di rumah sakit dan bukan di tenda, penduduk negara itu bisa berjumlah 1,4 miliar jiwa pada 2050. bukan 1,6 miliar.

Para pengecam model Andhra Pradesh, misalnya Nanda dari Yayasan Kependudukan, mengatakan bahwa warga India memerlukan perawatan kesehatan yang lebih baik, terutama di daerah pedesaan. Mereka menentang target angka yang menekan pegawai negeri untuk mensterilisasi orang atau insentif uang tunai yang mendistorsi pilihan suami-istri tentang jumlah anak. “Itu adalah keputusan pribadi,” kata Nanda.

Di sejumlah kota di India dewasa ini, banyak pasangan suami istri mengambil pilihan yang sama dengan rekan mereka di Eropa atau Amerika. Sonalde Desai, pejabat senior di New Delhi’s National Council of Applied Economic Research, memperkenalkan saya kepada lima wanita karier di Delhi yang menghabiskan sebagian besar gaji mereka untuk membayar uang sekolah swasta dan guru les; masing-masing punya satu atau dua anak dan tidak berencana punya anak lagi. Dalam survei nasional terhadap 41.554 rumah tangga, tim Desai mengidentifikasi kelompok kecil perintis yang semakin membesar, yang terdiri atas sejumlah keluarga beranak tunggal. “Kami benar-benar tercengang menyaksikan tekanan yang dibebankan para orang tua ini kepada anak mereka,” katanya. “Tiba-tiba saja kita jadi mengerti—itulah sebabnya angka kelahiran menurun.” Anak-anak India rata-rata berpendidikan lebih baik dibandingkan dengan orang tua mereka.

Hal seperti itu tidak dijumpai di pinggiran kota. Bersama tim Desai saya mengunjungi Palanpur, sebuah desa di Uttar Pradesh—sebuah negara bagian di kawasan sabuk Hindi yang jumlah penduduknya sama dengan penduduk Brasil. Ketika berjalan memasuki desa itu, kami melewati menara ponsel, tetapi juga selokan pembuangan limbah yang mengalir di sepanjang jalur rumah-rumah bata yang kecil. Di bawah pohon mangga, tukang bersih semak belukar mengatakan, dia tidak melihat alasan untuk menyekolahkan ketiga anak perempuannya. Di bawah pohon nimba (Azadirachta indica) di tengah desa, saya menanyai belasan orang petani tentang hal terbaik apakah yang bisa memperbaiki kehidupan mereka. “Kalau ada yang mau memberi kami uang, pasti menyenangkan,” kata salah seorang dengan bercanda.

Sasaran di India seharusnya jangan berupa menurunkan angka kelahiran atau populasi, begitu kata Almas Ali dari Yayasan Kependudukan, ketika saya bercakap-cakap dengannya beberapa hari kemudian. “Sasarannya seharusnya membuat pedesaan layak huni,” ujarnya. “Setiap kali kita berbicara tentang populasi di India, bahkan juga sekarang, yang pertama kali terpikirkan adalah angka yang terus meningkat. Dan angka ini dilihat dengan perasaan cemas. Sifat fobia ini sudah menerobos pola pikir sedemikian rupa sehingga terpusat pada cara menurunkan angka ini. Pusat perhatian pada manusianya sudah tersingkirkan.”

Lama perjalanan pulang ke Delhi dari Palanpur adalah empat jam, melalui malam pasar pada suatu hari Minggu. Kami terjebak dalam kemacetan dari kota pasar yang satu ke kota pasar yang lain, masing-masing disibukkan oleh kegiatan yang kadang seakan hendak melahap mobil kami. Tatkala kami tiba di sebuah jembatan menuju Moradabad, saya melihat seorang lelaki mendorong gerobak mendaki bukit terjal, dipenuhi muatan begitu besar sehingga menutupi pandangannya. Saya pun teringat pada pencerahan yang dialami Ehrlich saat berada dalam taksinya beberapa dasawarsa yang lalu. Orang, orang, orang, orang—ya. Namun juga perasaan meluap-luap tentang energi, perjuangan, aspirasi.

Pertemuan tahunan Asosiasi Kependudukan Amerika (Population Association of America – PAA) adalah salah satu pertemuan besar yang dihadiri para ahli demografi dunia. Pada pertemuan April yang lalu, ledakan penduduk dunia tidak tercantum pada agendanya. “Masalah tersebut sudah menjadi agak usang,” ujar Hervé Le Bras. Para ahli demografi pada umumnya yakin bahwa pada paruh kedua abad ini kita akan mengakhiri salah satu era unik dalam sejarah—ledakan penduduk—dan memasuki era lain yang memperlihatkan populasi yang stabil atau bahkan menyusut.

Namun, apakah jumlah manusia akan terlalu banyak? Pada pertemuan PAA di hotel Dallas Hyatt Regency, saya ketahui bahwa jumlah penduduk Bumi dapat pas jika dijejalkan ke dalam negara bagian Texas, jika Texas dihuni sepadat New York. Pembandingan tersebut membuat saya mulai merenung seperti Leeuwenhoek. Jika pada 2045 terdapat sembilan miliar manusia menghuni enam benua yang layak huni, kerapatan penduduk dunia akan sedikit dari setengah kerapatan penduduk Prancis saat ini. Prancis jarang dipandang sebagai tempat yang sangat tidak nyaman. Apakah dunia akan menjadi tempat yang sangat tidak nyaman kelak pada saat itu?

Sebagian kawasan dunia mungkin sekali begitulah keadaannya; sebagian sudah sangat tidak nyaman saat ini. Sekarang terdapat 21 kota yang penduduknya lebih dari sepuluh juta orang, dan pada 2050 akan lebih banyak lagi. Delhi menampung ratusan ribu pendatang setiap tahun dan mereka tiba tanpa menyadari bahwa “belum ada program terencana untuk pengadaan air, saluran pembuangan, atau hunian,” kata Shailaja Chandra. Dhaka di Bangladesh dan Kinshasa di Republik Demokratik Kongo berpenduduk 40 kali lebih banyak jika dibandingkan pada 1950. Perkampungan kumuh di sana dipenuhi orang miskin sengsara yang melarikan diri dari kemiskinan yang lebih parah di pedesaan.

Dewasa ini banyak negara menghadapi tekanan populasi yang tampaknya tak tertangani di mata kita seperti India di mata Ehrlich pada 1966. Bangladesh adalah salah satu negara yang paling padat penduduknya di dunia dan salah satu yang paling terancam oleh perubahan iklim; gelombang pasang air laut dapat menyapu jutaan warga Bangladesh. Rwanda mengalami hal yang sama mencemaskannya. Dalam bukunya Collapse, Jared Diamond mengemukakan bahwa pembantaian sekitar 800.000 warga Rwanda pada 1994 adalah akibat beberapa faktor, bukan hanya kebencian etnik, tetapi juga kelebihan penduduk—terlalu banyak petani membagi luas lahan yang sama menjadi luas yang semakin lama semakin sempit sehingga tidak cukup untuk menopang kehidupan keluarga. “Masa depan terburuk yang diramalkan Malthus di suatu saat nanti mungkin terbukti,” begitu Diamond menyimpulkan.

Banyak orang yang secara masuk akal merasa cemas bahwa pada akhirnya Malthus akan terbukti benar di tingkat global—bahwa Bumi tidak akan sanggup memberi makan sembilan miliar orang. Lester Brown, pendiri Lembaga Worldwatch dan sekarang kepala Lembaga Kebijakan Bumi di Washington, yakin bahwa keterbatasan pangan dapat menyebabkan runtuhnya peradaban dunia. Umat manusia mempertahankan kehidupannya dengan menghabiskan sumber daya alam, begitu dikemukakan Brown, dengan mengikis tanah dan menghabiskan persediaan air tanah lebih cepat daripada pemulihannya kembali. Semua itu akan segera menyusutkan produksi pangan. Rencana cadangan Brown untuk menyelamatkan peradaban akan menempatkan seluruh dunia dalam keadaan siap tempur, seperti A.S. setelah peristiwa Pearl Harbor, untuk menstabilkan iklim dan memperbaiki kerusakan lingkungan. “Memperbaiki kelemahan program keluarga berencana mungkin merupakan perkara paling mendesak dalam agenda dunia,” begitu tulis Brown, sehingga jika kita tidak berhasil mempertahankan penduduk dunia pada angka delapan miliar dengan menurunkan angka kelahiran, angka kematianlah yang mungkin bisa meningkat.

Angka delapan miliar sesuai dengan perkiraan terendah PBB untuk 2050. Dalam skenario yang optimistis itu, Bangladesh memiliki angka kelahiran 1,35 pada 2050, tetapi pada saat itu kelak negara tersebut masih memiliki penduduk 25 juta lebih banyak dibandingkan sekarang. Angka kelahiran di Rwanda juga turun sampai di bawah tingkat keseimbangan, tetapi jumlah penduduknya tetap bertambah hingga mencapai dua kali lipat sebelum masa pembantaian besar-besaran dulu. Jika ini skenario yang optimistis, mungkin begitu pikir kita, masa depan memang sangat suram.

Akan tetapi, kita juga bisa menarik kesimpulan yang berbeda—bahwa terpaku pada angka populasi saja bukanlah cara terbaik untuk menghadapi masa depan. Orang yang tinggal berdesak-desakan di kawasan kumuh memerlukan bantuan dan masalah yang harus dipecahkan adalah kemiskinan serta tidak tersedianya prasarana, bukan kelebihan penduduk. Menyediakan layanan keluarga berencana bagi kaum perempuan memang bagus—“Salah satu strategi yang dapat berdampak paling besar terhadap kehidupan perempuan,” begitu Chandra menyikapinya. Namun, program pengendalian penduduk yang paling gencar pun tidak akan bisa menyelamatkan Bangladesh dari gelombang pasang air laut, Rwanda dari pembantaian lain, atau kita semua dari masalah lingkungan yang amat parah.

Pemanasan global adalah contoh yang bagus. Emisi karbon dari bahan bakar fosil tumbuh paling pesat di China berkat kemajuan ekonominya yang berkelanjutan, tetapi angka kelahiran di negara itu sudah di bawah angka keseimbangan; tidak banyak upaya lagi yang dapat dilakukan untuk mengendalikan populasi. Di Afrika sub-Sahara yang jadi tempat berlangsungnya pertumbuhan populasi tercepat, emisi per orang hanya segelintir persen dari yang terjadi di AS—jadi, pengendalian populasi tidak akan terlalu berdampak pada iklim. Brian O’Neill dari Pusat Penelitian Atmosfer Nasional sudah menghitung bahwa jika populasi mencapai 7,4 miliar pada 2050 alih-alih 8,9 miliar, emisi akan berkurang 15 persen. “Orang yang mengatakan bahwa masalah satu-satunya adalah populasi itu keliru,” ujar Joel Cohen. “Populasi bahkan bukan faktor yang dominan.” Untuk menghentikan pemanasan global, kita semua harus beralih dari bahan bakar fosil ke energi alternatif—menjadi sebesar apa pun populasi kelak.

Tentu saja jumlah orang memang berperan penting. Namun, cara kita melahap sumber daya justru jauh lebih penting. Sebagian di antara kita meninggalkan dampak jauh lebih besar daripada orang lain. Tantangan utama bagi masa depan manusia dan planet ini adalah bagaimana kita bisa mengentaskan lebih banyak orang dari kemiskinan—penghuni kawasan kumuh di Delhi, kebersintasan para petani di Rwanda—sambil mengurangi dampak yang kita hasilkan masing-masing terhadap planet ini.

Bank Dunia meramalkan bahwa pada 2030 lebih dari satu miliar orang di dunia ketiga akan menjadi bagian dari “kelas menengah global,” bertambah dari hanya 400 juta pada 2005. Itu bagus. Namun, akan menjadi beban bagi Bumi jika orang-orang itu menyantap daging dan mengendarai mobil bensin dengan laju kecepatan yang sama dengan yang dilakukan warga AS saat ini. Sudah terlambat menghalangi kelahiran kelas menengah baru 2030; belum terlambat mengubah cara mereka dan kita semua dalam menghasilkan dan melahap pangan dan energi. “Menyantap lebih sedikit daging tampaknya lebih masuk akal bagi saya daripada berkata, ‘Kurangi jumlah anak!’” ujar Le Bras.

Berapa banyakkah orang yang dapat didukung Bumi? Untuk menjawabnya, Cohen menghabiskan waktu bertahun-tahun mengkaji semua penelitian, mulai dari penelitian Leeuwenhoek dan seterusnya. “Saya menulis buku dengan perkiraan dapat menjawab pertanyaan itu,” ujarnya. “Ternyata pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan pengetahuan kita saat ini.” Alih-alih, yang didapatinya adalah “angka politik yang rentangnya lebar, yang dimaksudkan untuk membujuk orang” untuk mencapai kesimpulan yang dikehendaki.

Selama berabad-abad kelompok yang pesimistis tentang populasi melontarkan peringatan tentang akhir dunia yang ditujukan kepada kelompok optimis sejati. Kelompok yang terakhir ini benar-benar yakin bahwa umat manusia akan berhasil mencari jalan untuk menanggulangi dan bahkan memperbaiki nasibnya. Sampai sejauh ini, sejarah pada umumnya berpihak kepada kelompok optimis, tetapi sejarah bukan panduan yang meyakinkan tentang masa depan. Begitu juga dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak dapat meramalkan hasil pertarungan Manusia vs. Bumi, sebab semua faktanya—akan berapa banyak jumlah kita dan bagaimana cara kita hidup—bergantung pada berbagai pilihan yang masih harus kita ambil dan berbagai gagasan yang masih harus kita gagas. Misalnya kita mungkin saja, kata Cohen, “memastikan bahwa semua anak berkecukupan gizi sehingga bisa bersekolah dan berpendidikan cukup untuk memecahkan masalah yang akan mereka hadapi di saat mereka sudah dewasa.” Hal itu dapat mengubah masa depan secara signifikan.

Perdebatan tersebut sudah ada pada sosok Pendeta Thomas Malthus sejak paham kecemasan tentang populasi mencuat. Menjelang akhir bukunya, yang di dalamnya dirumuskan hukum kaku yang menyatakan bahwa populasi yang tidak terkendali dapat menyebabkan wabah kelaparan, Malthus menyatakan hukum itu amat bagus: Hal itu menyebabkan kita bertindak. Hal itu menyebabkan kita menaklukkan dunia. Umat manusia, begitu tulis Malthus, bersifat “lembam, lamban, dan tidak suka bekerja, kecuali jika terpaksa.” Namun kebutuhan, katanya, memberikan harapan:

“Upaya yang menurut kita perlu dilakukan, untuk menopang diri sendiri atau keluarga, sering membangunkan kekuatan yang kalau tidak dibangunkan bisa selamanya tersembunyi, dan sudah diketahui bahwa situasi baru dan yang luar biasa pada umumnya menciptakan pemikiran yang cukup baik untuk menghadapi kesulitan yang melibatkan diri kita.”

Tujuh miliar manusia sebentar lagi, sembilan miliar pada 2045. Mari kita harapkan bahwa Malthus benar bahwa kita memang panjang aka

Wednesday, January 5, 2011

5 Tren Fitness 2011


Perubahan tren bukan hanya terjadi pada fesyen dan kecantikan. Tren fitness pada tahun 2011 juga mengalami perubahann. Lalu apa saja yang menjadi tren fitness di tahun 2011?

Seperti yang dikutip dari sheknows, American Council on Exercise membuat lima hal yang akan menjadi tren di dunia fitness.

Fitness tren #1

- Menggunakan jasa personal trainer
Menggunakan Personal trainer biasanya membuat kliennya termotivasi untuk melakukan gerakan fitness lebih giat lagi mereka juga dapat membantu memonitoring asupan makanan yang sehari-hari dikonsumsi oleh kliennya.

Fitness tren #2

- Bergabung dalam grup kecil
Sekarang ini Anda perlu melakukan penghematan untuk hal apapun, termasuk untuk pengeluaran fitness. Dengan mengikuti grup kecil dalam latihan, Anda bisa menggunakan jasa personal trainer. Anggota dari grup ini dapat mengatur kapan waktu yang tepat untuk latihan berbarengan dan cocokan dengan jadwal personal trainernya. Cara ini dinilai akan menjadi tren fitness ditahun ini mengingat banyaknya orang yang sadar pada kesehatan tetapi dengan budget yang terbatas.

Fitness tren #3
- Dukungan dari Jejaringan sosial
Membentuk badan yang sehat akan sangat mudah apabila mendapatkan dukungan dari teman-teman. Jejaringan sosial seperti Facebook, twitter dan YouTube akan semakin populer karena Anda akan termotivasi dengan dukungan orang terdekat.

Fitness tren #4
- Mengurangi stress dengan fitness
Stress dalam menjalani kehidupan akan semakin dapat Anda rasakan ditahun 2011. Karena itu diperkirakan orang-orang akan ramai mendaftarkan dirinya untuk mengikuti kelas pada fitness seperti yoga dan pilates yang dapat membantu mengurangi pikiran yang mengganggu Anda.

Fitness tren #5

- Program kebugaran anak
Semua orang akan semakin sadar betapa pentingnya kesehatan bagi tubuh dan kualitas hidup. Untuk itu, akan bermunculan program-program fitness untuk usia dini bahkan sekolah-sekolah pendidikan umum akan banyak bekerja sama dengan pusat kebugaran.

Monday, January 3, 2011

Alasan Jogja Jadi Daerah Istimewa

Yogyakarta pertama kali berstatus provinsi pada 5 September 1945, ketika Raja Ngayogyakarto Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono IX bersama Paku Alam VIII menyatakan bahwa Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diproklamirkan Soekarno Hatta pada 17 Agustus 1945.


Amanat Sri Sultan bersama Paku Alaman yang kemudian disebut Amanat 5 September tersebut merupakan bentuk dukungan Kerajaan Ngayogyakarto Hadiningrat terhadap NKRI.

Ketika Indonesia diproklamasikan sebagai suatu negara merdeka oleh Soekarno Hatta, sebenarnya Kerajaan Yogyakarta dan begitu juga kerajaan-kerajaan lain di wilayah bekas jajahan Belanda bisa saja melepaskan diri dari NKRI.

Namun ternyata Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII memberikan dukungan terhadap NKRI dan dalam amanat yang ditandatangani Sri Sultan bersama Paku Alam menyatakan “Bahwa Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat jang bersifat keradjaan adalah daerah istimewa dari Negara Republik Indonesia.”

Isi lain dari amanat Sri Sultan tersebut adalah, “Bahwa kami sebagai Kepala Daerah memegang segala kekuasaan dalam Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat, dan oleh karena itu berhubung dengan keadaan pada dewasa ini segala urusan pemerintahan dalam Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat mulai saat ini berada di tangan kami dan kekuasaan-kekuasaan lainnja kami pegang seluruhnya.”

Berikutnya adalah, “Bahwa perhubungan antara Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat dengan Pemerintah Pusat Negara Republik Indonesia, bersifat langsung dan Kami bertanggung djawab atas Negeri Kami langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Kami memerintahkan supaja segenap penduduk dalam Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat mengindahkan Amanat Kami ini.”

Begitu juga Paku Alam VIII dalam amanatnya menyatakan, “Bahwa Negeri Paku Alaman jang bersifat keradjaan adalah daerah istimewa dari Negara Republik Indonesia.” Berikutnya, “Bahwa kami sebagai Kepala Daerah memegang segala kekuasaan dalam Negeri Paku Alaman, dan oleh karena itu berhubung dengan keadaan pada dewasa ini segala urusan pemerintahan dalam Negeri Paku Alaman mulai saat ini berada ditangan Kami dan kekuasaan-kekuasaan lainnja Kami pegang seluruhnja.”

Amanat berikutnya adalah, “Bahwa perhubungan antara Negeri Paku Alaman dengan Pemerintah Pusat Negara Republik Indonesia, bersifat langsung dan Kami bertanggung djawab atas Negeri Kami langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Kami memerintahkan supaja segenap penduduk dalam Negeri Paku Alaman mengindahkan Amanat Kami ini.”

Keistimewaan Yogyakarta ini pun disambut baik oleh para founding father Indonesia dengan dikeluarkannya payung hukum yang dikenal dengan nama piagam penetapan. Payung hukum ini sebenarnya sudah dikeluarkan oleh Soekarno yang duduk di BPUPKI dan PPKI pada 19 Agustus 1945.

Piagam penetapan ini kemudian diserahkan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII pada 6 September 1945. Isi piagam penetapan itu adalah, “Piagam Kedudukan Sri Paduka Ingkeng Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono IX, Kami, Presiden Republik Indonesia, menetapkan:

Ingkeng Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono, Senopati Ing Ngalogo, Abdurrahman Sayidin Panotogomo, Kalifatullah Ingkang Kaping IX Ing Ngayogyakarta Hadiningrat, pada kedudukannya,

Dengan kepercayaan bahwa Sri Paduka Kangjeng Sultan akan mencurahkan segala pikiran, tenaga, jiwa dan raga, untuk keselamatan Daerah Yogyakarta sebagai bagian daripada Republik Indonesia.

Jakarta, 19 Agustus 1945
Presiden Republik Indonesia
Ir. Sukarno”

Sejak itulah status daerah istimewa melekat pada Yogyakarta dan ditetapkan dalam Undang-Undang No 3 tahun 1950 Jo UU No 19 tahun 1950 mengenai Pembentukan Daerah Istimewa Jogjakarta.

Terlebih status istimewa mendapat payung hukum dari Undang-Undang Dasar 1945, yakni pasal 18A ayat 1 yang penegasannya adalah “bahwa negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintah daerah yang bersifat khusus dan istimewa yang diatur dalam undang-undang.”

Konsekuensi dari hal tersebut berarti pemimpin (gubernur dan wakil gubernur) Provinsi Yogyakarta adalah raja Ngayogyakarto Hadiningrat dengan wakilnya adalah raja dari Paku Alam, yang selama ini dijabat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII dan kemudian dilanjutkan (baca diwariskan) kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Paku Alam IX.

Kondisi ini berlangsung damai sampai kemudian muncul Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Dalam UU tersebut, diatur bahwa gubernur dan wakil gubernur suatu provinsi di NKRI dipilih dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) dengan masa jabatan maksimal 10 tahun atau dua kali pilkada.

Daerah Istimewa Yogyakarta pun harus mengikuti aturan dalam undang-undang tersebut. Artinya Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Paku Alam IX harus mengikuti pilkada jika ingin menjadi gubernur dan wakil gubernur lagi. Hingga kemudian pemerintah (pusat) mengajukan rancangan undang-undang (RUU) untuk Yogyakarta yang sampai saat ini belum tuntas. Padahal RUU tersebut diharapkan menjadi solusi bagi keistimewaan Yogyakarta.

Pada saat itulah Sri Sultan Hamengku Buwono X yang masa jabatan gubernurnya sudah diperpanjang dua kali menyatakan perlunya referendum yang dilakukan untuk Provinsi DI Yogyakarta. Referendum bagi rakyat Yogyakarta ini, apakah gubernur dan wakil gubernurnya nanti ditetapkan atau dipilih dalam pilkada. Walau pun banyak kalangan, lontaran Sri Sultan tersebut hanya untuk menyindir pemerintah (pusat) dan DPR agar menyelesaikan segera RUU.

Memang selama ini status istimewa Yogyakarta terkesan digantung oleh pemerintah dan DPR. Pemerintah di satu sisi menuding DPR lambat menyelesaikan pembahasan di sisi lain DPR menuding pemerintah menahan RUU tersebut di Kementerian Dalam Negeri. Apakah benar nantinya referendum yang menjadi solusinya, seperti dilontarkan Sri Sultan Hamengku Buwono X? Dan ini mengkhawatirkan karena di samping bisa menjadi preseden buruk bagi provinsi lain bisa juga menjadi awal disintegrasi bangsa dan bubarnya NKRI.

Sejarah Lurik Masa Ke Masa


Lurik merupakan nama kain, kata lurik sendiri berasal dari bahasa Jawa, lorek yang berarti garisgaris, yang merupakan lambang kesederhanaan. Sederhana dalam penampilan maupun dalam pembuatan namun sarat dengan makna (Djoemena, Nian S., 2000).

Selain berfungsi untuk menutup dan melindungi tubuh, lurik juga memiliki fungsi sebagai status simbol dan fungsi ritual keagamaan. Motif lurik yang dipakai oleh golongan bangsawan berbeda dengan yang digunakan oleh rakyat biasa, begitu pula lurik yang dipakai dalam upacara adat disesuaikan dengan waktu serta tujuannya.

Nama motifnya diperoleh dari nama flora, fauna, atau dari sesuatu benda yang dianggap sakral. Motif lurik tradisional memiliki makna yang mengandung petuah, cita-cita, serta harapan kepada pemakainya. Namun demikian saat ini pengguna lurik semakin sedikit dibandingkan beberapa puluh tahun yang lalu. Perajinnya pun dari waktu ke waktu mulai menghilang.

Lurik menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia (1997) adalah suatu kain hasil tenunan benang yang berasal dari daerah Jawa Tengah dengan motif dasar garis-garis atau kotak-kotak dengan warna-warna suram yang pada umumnya diselingi aneka warna benang. Kata lurik berasal dari akar kata rik yang artinya garis atau parit yang dimaknai sebagai pagar atau pelindung bagi pemakainya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), lurik adalah kain tenun yang memiliki corak jalurjalur, sedangkan dalam Kamus Lengkap Bahasa Jawa(Mangunsuwito:20 02) pengertian lurik adalah corak lirik-lirik atau lorek-lorek, yang berarti garis-garis dalam bahasa Indonesia.

Dan berbagai definisi yang telah disebutkan di atas, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lurik merupakan kain yang diperoleh melalui proses penenunan dari seutas benang (lawe) yang diolah sedemikian rupa menjadi selembar kain katun. Proses yang dimaksud yaitu diawali dari pembuatan benang tukel, tahap pencelupan yaitu pencucian dan pewarnaan, pengelosan dan pemaletan, penghanian, pencucuk-an, penyetelan, dan penenunan. Motif atau corak yang dihasilkan berupa garis-garis vertikal maupun horisontal yang dijalin sedemikian rupa sesuai warna yang dikehendaki dengan berbagai variasinya.

Tidak banyak ditemui tulisan mengenai kain tenun lurik. Hanya ada beberapa saja, antara lain yang ditulis oleh Nian S.Djoemena dalam bukunya yang berjudul Lurik, Garis-garis Bertuah. Dalam buku tersebut dijelaskan mengenai proses pembuatan kain lurik beserta alat yang digunakan. Selain itu, diuraikan pula mengenai macam macam motif lurik, makna, waktu pemakaian, dan fungsinya secara garis besar terutama dalam acara ritual keagamaan dan dalam upacara perkawinan. Lurik yang diuraikan dalam buku tersebut tidak hanya terbatas pada motif lurik Yogyakarta, ada pula motif Jawa Tengah dan Tuban, ada pula motif irip lurk yang terdapat di luar Jawa maupun Juan Indonesia.

Namun, buku ini belum menjelaskan lebih lanjut mengenai perkembangan lurik saat ini dan usaha pelestariannya. Kain lurik merupakan kain tenun dengan motif garisgaris pada sehelai kain. Kata Lurik berasal dari bahasa Jawa yaitu lorek yang berarti lajur atau garis (Djoemena, Nian.S: 2000).

Namun pakaian atau kain dengan motif lorek tidak dapat secara langsung disebut lurik, karena lurik harus memenuhi persyaratan yang berkaitan dengan bahan tertentu dan diolah melalui proses tertentu pula, mulai dari pewarnaan, pencelupan, pengkelosarf, pemaletan, peghanian, pencucukan, penyetelan, sampai pada penenunan, hingga nantinya menjadi kain yang slap dipakai.

Motif kain lurik ternyata tidak hanya berupa garis-garis membujur saja, tetapi dalam perkembangannya kemudian, motif kotak-kotak sebagai hasil kombinasi antara garis melintang dengan garis membujur dapat dikategorikan sebagai lurik.

Tidak hanya berupa garis, motif kain lurik ada juga yang berupa kotak-kotak yang merupakan perpaduan dua garis vertikal dan horisontal yang pada kain tenun yang bercorak garis atau kotak saja, akan tetapi termasuk pula kain polos dengan berbagai warna, seperti merah dan hijau atau dikenal dengan nama lurik polosan. Seperti apa yang diungkapkan Dibyo bahwa “Sifat lurik yaitu: bahannya dari katun, gambar garis, tetapi kadang bikin kotak-kotak, ataupun polos. Meskipun polos, namanya tetap lurik.”

Nilai Kehidupan
Salah satu keunggulan manusia adalah bahwa ia memiliki daya kreatif untuk membuat, membentuk apa yang ada di sekelilingnya, kemudian diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Daya kreativitas tersebut merupakan bagian yang penting dalam proses berkarya seni. Seni merupakan kegiatan kreatif imajinasi manusia untuk menerangkan, memahami, dan menikmati kehidupan (Haviland:1993). Dengan daya kreatif yang dimilikinya, manusia berusaha menciptakan pakaian yang dibuat dari kapas atau bahan lain, kemudian ditenun menjadi kain. Kain dijahit menjadi pakaian.

Seni memiliki tujuan praktis. Tujuan praktis ini merupakan guna atau manfaat yang diperoleh secara langsung bagi penggunanya. Tujuan praktis dari pakaian yaitu untuk melindungi tubuh dari hawa dingin, gigitan serangga, terik matahari dan berbagai gangguan lainnya. Selain itu seni memiliki fungsi sebagai norma perilaku yang teratur, meneruskan adat kebiasaan dan nilai-nilai budaya (Haviland:1993). Dalam adat berpakaian, seperti dalam penggunaan kain lurik, terdapat nilai budaya yang akan disampaikan dan untuk diteruskan kepada generasi selanjutnya.

Pada suatu masyarakat tradisional, selain memiliki fungsi guna atau manfaat, pakaian seringkali memiliki fungsi lain seperti fungsi status simbol, maupun ritual keagamaan, pada motif- motif tertentu terdapat kandungan nilai, harapan, dan sebagainya. Orang yang memiliki kedudukan sosial tinggi berbeda pakaiannya dengan orang yang status sosialnya lebih rendah, pakaian yang dikenakan seorang bangsawan berbeda dengan rakyat biasa, entah itu berbeda model maupun motifnya. Begitu pula pakaian yang dipakai untuk upacara tertentu berbeda dengan yang dipakai pada hari biasa.

Sesuai dengan keanekaragaman umat manusia, pakaian yang digunakan juga bermacammacam dan bervariasi. Pada masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai tradisinya seperti yang terdapat pada kelompok-kelompok suku bangsa di Indonesia, pakaian yang digunakan menunjukkan identitas dari suatu suku bangsa. Dalam hal ini pakaian bukanlah semata-mata sebagai suatu benda materi yang hanya dipakai tanpa memiliki arti apapun.

Kain lurik misalnya, merupakan suatu simbol karena ia memiliki makna. Simbol merupakan tanda yang dapat ditafsirkan (Geertz:1992,17) atau diekplanasikan. Makna-makna tersebut merupakan sesuatu yang tidak tampak tetapi dapat dilihat melalui penafsiranpenafsiran, pemahaman-pemahaman yang kemudian ditata sedemikian rupa.

Simbol merupakan segala sesuatu (benda, peristiwa, tindakan, ucapan, dan sebagainya) yang telah ditempeli arti tertentu. Simbol bukan milik individu, namun milik suatu kelompok masyarakat. Kelompok masyarakat tersebut terdiri dari sekumpulan orang yang memiliki sistem pengetahuan, gagasan, ide, adat kebiasaan serta norma perilaku yang sama, yang diungkapkan dalam tata cara kehidupan manusia yang terwujud dalam benda-benda budaya.

Kain tenun lurik merupakan salah satu benda budaya karena dimiliki oleh suatu masyarakat tertentu. Benda ini merupakan wujud fisik dari ide, nilai, maupun norma yang mengatur dan memberi arah bagi masyarakat pada suatu kebudayaan tertentu. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Koentjaraningrat (2000) bahwa terdapat tiga wujud kebudayaan, yaitu norma sebagai tata kelakuan yang mengatur dan memberi arah, aktivitas yang berpola, dan benda hasil karya manusia sebagai wujud fisiknya.

Manusia tidak dapat terlepas dari simbol, karena manusia adalah binatang yang terjerat dalam jaringan-jaringan makna yang ditenunnya sendiri (Geertz:1992). Di setiap waktu dan disegala tempat, manusia selalu berhubungan dengan simbol atau lambang karena is berpikir, berperasaan, dan bersikap dengan ungkapanungkapan simbolis (Herusatoto: 1987). Simbol atau lambang ini merupakan hal yang penting bagi masyarakat pendukungnya. Menurut Ernst Cassirer (1944) bahwa manusia tidak dapat melihat„ menemukan, dan mengenai dunia secara langsung tetapi melalui berbagai simbol.

Simbol yang terwujud dalam benda-benda budaya, dalam hal ini adalah kain tenun lurik merupakan sesuatu yang penting bagi masyarakat pendukungnya. Melalui kain lurik ini terdapat pesan, nasihat dan panduan hidup yang disampaikan dan diharapkan nantinya dapat terus diteruskan ke generasi selanjutnya. Terdapat beberapa hal mengenai simbol seperti ditulis oleh C.A Van Peursen (1976), bahwa simbol atau lambang memperlihatkan kaidah dalam perbuatan manusia. Kaidah itu berhubungan dengan seluruh pola kehidupan, perbuatan, dan harapan manusia. Simbol muncul ketika manusia sedang belajar dan untuk menampung hasil belajarnya manusia menggunakan media bahasa, baik bahasa lisan, tulisan, gerak, maupun visual.

Pengetahuan yang diperoleh manusia dari hasil belajar semakin lama semakin bertambah. Untuk mempermudah penyerapan pengtahuan yang semakin banyak tersebut, bahasa kemudain dialihkan menjadi lambang, simbol abstrak. Pengertian bahasa disini menjadi meluas meliputi berbagai bentuk lambang berupa tarian, gambar, kata, maupun isyarat. Lambang yang diungkapkan melalui media bahasa ini digunakan dalam rangka meneruskan, mewariskan ajaran kepada generasi setelahnya. Dari simbol yang terdapat pada kain lurik ini dapat ditemukan harapan, ungkapan, pelajaran positif yang dapat diambil dan dijadikan pelajaran bagi generasi selanjutnya dalam menentukan langkah menuju kehidupan yang lebih baik. Meskipun saat ini tidak banyak lagi yang mengetahui apa makna dibalik motif lurik, namun ada sebagian orang yang berusaha bertahan untuk membuat dan mengenakannya baik dalam acara-acara tertentu, maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Sejarah Lurik
Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia (1997) disebutkan bahwa lurik diperkirakan berasal dari daerah pedesaan di Jawa, tetapi kemudian berkembang, tidak hanya menjadi milik rakyat, tetapi juga dipakai di lingkungan keraton. Pada mulanya, lurik dibuat dalam bentuk sehelai selendang yang berfungsi sebagai kemben (penutup dada bagi wanita) dan sebagai alat untuk menggendong sesuatu dengan cara mengikatkannya pada tubuh, sehingga kemudian lahirlah sebutan lurik gendong.

Dan beberapa situs peninggalan sejarah, dapat diketahui bahwa pada masa Kerajaan Majapahit, lurik sudah dikenal sebagai karya tenun waktu itu. Bahwa lurik sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat lampau, dapat dilihat dari cerita Wayang Beber yang menggambarkan seorang ksatria melamar seorang putri Raja dengan alat tenun gendong sebagai mas kawinnya. Keberadaan tenun lurik ini tampak pula dalam salah satu relief Candi Borobudur yang menggambarkan orang yang sedang menenun dengan alat tenun gendong. Selain itu adanya temuan lain, yaitu prasasti Raja Erlangga dari Jawa Timur pada tahun 1033 menyebut kain Tuluh Watu sebagai salah satu nama kain lurik (Djoemena, Nian.S:2000).

Pada awalnya, motif lurik masih sangat sederhana, dibuat dalam warna yang terbatas, yaitu hitam, putih atau kombinasal antarkeduanya. Pada jaman dahulu proses pembuatan tenun lurik ini dimulai dari menyiapkan bahan yaitu benang (lawe). Benang ini berasal dari tumbuhan perdu dengan warna dominan hitam dan putih.

Selanjutnya, benang tadi diberi warna dengan menggunakan pewarna tradisional, yaitu yang bernama Tarum) dan dari kulit batang mahoni. Hasil rendaman daun pohon Tom menghasilkan warna nila, biru tua, dan hitam, sedangkan kulit batang mahoni menghasilkan warna coklat.

Sebelum ditenun, benang dicuci berkali-kali, kemudian dipukul-pukul hingga lunak (dikemplong), setelah itu dijemur, lalu dibaluri nasi dengan menggunakan kuas yang terbuat dari sabut kelapa. Setelah bahan atau benang ini kaku, kemudian diberi warna. Setelah itu dijemur kembali dan benang siap untuk ditenun.

Dahulu, alat yang digunakan untuk menenun dikenal dua macam alat, yaitu alat tenun bendho dan alat tenun gendong. Adapun alat tenun bendho terbyat dari bambu atau batang kayu, biasanya digunakan untuk membuat stagen. Stagen yaitu ikat pinggang dari tenunan benang yang sangat panjang dan digunakan untuk pengikat kain (jarik) oleh para wanita Jawa.

Alat tenun ini digunakan dengan posisi berdiri. Disebut sebagai alat tenun bendho karena alat yang digunakan untuk merapatkan benang pakan berbentuk bendho (golok), sedangkan alat tenun gendong digunakan untuk membuat bahan pakaian, selendang lebar, maupun jarik (kain panjang). Disebut demikian karena salah satu bagiannya diletakkan di belakang pinggang, sehingga tampak seperti digendong. Dalam proses pembuatan kainnya, penenun dalam posisi duduk memangku alat tenun tersebut.

Dahulu, kain lurik dipakai hampir oleh semua orang, sebagai busana sehari-hari. Untuk wanita dibuat kebaya, atau tapih/nyamping/jarik (kain untuk bawahan). Untuk pria, sebagai bahan baju pria, di Solo disebut dengan beskap, sedangkan di Yogyakarta dinamakan dengan surjan. Selain itu, lurik juga dibuat selendang (jarik gendong) yang biasanya dipakai oleh bakul (pedagang) di pasar untuk menggendong tenggok (wadah yang terbuat dari anyaman bambu), terutama di daerah Solo dan Klaten Jawa Tengah. Selain dibuat untuk bahan pakaian ataupun selendang, yang lebih penting lagi bahwa kain lurik ini dahulu digunakan dalam upacara yang berkaitan dengan kepercayaan, misalnya labuhan ataupun upacara adat lain seperti ruwatan, siraman, mitoni, dan sebagainya.

Beberapa Macam Corak Lurik
Meskipun motif lurik ini hanya berupa garisgaris, namun variasinya sangat banyak. Terdapat banyak ragam motif kain lurik tradisional, seperti yang ditulis oleh Nian S.Djoemena (2000) mengenai nama-nama corak, yaitu antara lain: corak klenting kuning, sodo sakler, lasem, tuluh watu, lompong keli, kinanti, kembang telo, kembang mindi, melati secontong, ketan ireng, ketan salak, dom ndlesep, loro-pat, kembang bayam, jaran dawuk, kijing miring, kunang sekebon, dan sebagainya. Dalam Ensiklopedi Indonesia (1997) disebutkan pula beberapa motif seperti ketan ireng, gadung mlati, tumenggungan, dan bribil.

Dalam perkembangannya muncul motif- motif lurik baru yaitu: yuyu sekandang, sulur ringin, lintang kumelap, polos abang, polos putih, dan masih banyak lagi. Motif yang paling mutahir adalah motif hujan gerimis, tenun ikat, dam mimi, dan galer.

Dahulu macam ragam corak lurik sangat banyak, tetapi sekarang banyak yang sudah terlupakan. Tidak semua orang termasuk para perajin lurik yang ada sekarang ini tahu dan ingat motif apa saja yang pernah ada, seperti yang dialami oleh Pak Dibyo.

Saat ini perusahaan tenun lurik seperti milik Bapak Dibyo Sumarto, yaitu perusahaan tenun lurik Kurnia tidak membuat motif lurik seperti yang disebutkan di atas, karena peminatnya tidak ada lagi. Motif-motif lurik yang sekarang dibuat lebih bervariasi, disesuaikan dengan warna-warna yang sedang disukai atau sedang trend. Jadi, motif atau corak lurik yang ia buat cenderung selalu berubah dan makin berkembang. Beberapa motif disesuaikan dengan yang dikehendaki oleh para pembeli. Begitu pula dengan perusahaan tenun lurik yang dikelola oleh Ibu Nur. Beliau bahkan tidak banyak membuat motif tenun jika tidak ada pesanan. Beberapa kain lurik ia buat saat ini lebih banyak untuk seragam sekolah dan selendang. Begitu pula dengan perusahaan tenun Kurnia yang lebih banyak mendapatkan pesanan dari sekolah-sekolah yang membutuhkan seragam. Selain itu pembelinya kebanyakan dari siswa sekolah yang sedang praktek tata busana.

Namun demikian, perusahaan tenun ini masih membuat beberapa kain lurik tradisional yang masih dipakai dari jaman dulu hingga sekarang, yaitu yang dipakai di lingkungan keraton seperti yang dikenakan oleh para abdi dalem dan para prajuritnya.

Motif yang dipakai para abdi dalem kerajaan tersebut dinamakan corak telu-pat atau tiga empat dalam bahasa Indonesia. Pakaian dengan motif ini dinamakan baju peranakan. Baju ini dikenakan oleh mereka ketika sowan atau caos (menghadap raja). Kain kluwung, gedog madu, sulur ringin, atau tuluh watu. Selain itu, ada pula motif lurik lain yang juga hanya digunakan oleh orang-orang tertentu pada waktu tertentu pula, yaitu yang dikenakan oleh abdi dalem dan para punggawa keraton. Ketika menghadiri pisowanan (mengahadap raja), para abdi dalem memakai baju peranakan dengan motif telu pat, sedangkan para prajurit keraton masingmasing juga memakai motif lurik yang telah ditentukan.

Prajurit Jogokaryan memakai motif Jogokaryo, prajurit Mantrijeron memakai motif mantrijero, begitu pula dengan prajurit Patangpuluhan memakai motif patangpuluh. Seperti yang diutarakan oleh Pak Dibyo bahwa “Motif keraton memang memiliki corak tersendiri. Ada yang me-namakannya lurik tiga empat, untuk para abdi dalem. Nama motifnya yaitu tiga empat, untuk per-anakan…prajurit keraton antara lain mantrijero, jogo-karyo, patangpuluh. Motifnya sendiri-sendiri. Motif untuk abdi dalem untuk caos atau sowan yaitu motif tiga empat.”

Motif lurik untuk prajurit kraton lainnya adalah motif ketanggung yaitu yang dikenakan oleh prajurit Ketanggungan. Mengenai motif yang tidak boleh dipakai oleh setiap orang dikatakan oleh Ibu Nur, “Ya seperti yang dipakai oleh para abdi dalem, peranakan, hanya dipakai oleh kalangan keraton. Tidak bisa dipakai umum.”

Namun saat ini, menurut apa yang dituturkan oleh Pak Dibyo, bahwa para pembeli bebas memilih motif mana yang dikehendaki. Pembeli boleh memakai kain lurik dengan berbagai macam corak, entah itu yang semestinya di pakai untuk sowan atau caos, ataupun yang digunakan untuk prajurit keraton. Untuk saat ini, biasanya motif lurik yang tidak boleh dikenakan atau dijual untuk umum yaitu yang dipakai untuk seragam sekolah, karena motif tersebut sudah merupakan identitas atau ciri khas sekolah yang bersangkutan.

Lurik Masa Kini
Tidak seperti beberapa puluh tahun yang lalu, saat ini tidak banyak masyarakat yang menaruh minat pada lurik terutama untuk dikenakan sebagai busana sehari-hari. Hal ini tampak pada surutnya jumlah pesanan di beberapa perusahaan tenun lurik yang ada di Yogyakarta. Bahkan di beberapa tempat, perusahaan tenun lurik tradisional banyak yang gulung tikar. Seperti yang terjadi di daerah Krapyak Wetan.

Dahulu, di sekitar wilayah tersebut banyak rumah atau tempat produksi tenun lurik, namun sekarang yang tertinggal hanya satu yaitu perusahaan tenun lurik Kurnia yang dimiliki Bapak Dibyo. Menurut cerita masyarakat setempat, di dusun Mlangi, Kabupaten Sleman pernah berdiri perusahaan tenun lurik tradisional, tetapi saat ini sudah tidak ada lagi. Beberapa tempat lain yang diperkirakan masih terdapat tempat pembuatan tenun lurik, yaitu di dusun Nggamplong, Godean, Sleman, atau di beberapa tempat di Kabupaten Kulonprogo.

Dahulu di sana banyak ditemui perusahaan tenun lurik, namun sekarang jika masih ada jumlahnya sangat sedikit. Menurut beberapa orang, berbagai macam motif yang dulu pernah dibuat, sekarang sudah tidak dibuat lagi karena peminatnya pun sudah tidak ada. Banyak perajin di perusahaan tenun tradisional yang sudah berusia lanjut, tetapi tidak ada regenerasi perajin untuk meneruskan keahliannya tersebut. Saat ini orang lebih memilih pekerjaan lain dari pada menenun.

Dahulu, ketika seorang perajin menenun, ketika ada waktu senggang ia minta anaknya untuk ikut menenun. Si anak diberi pelajaran sedikit demi sedikit, sehingga lama kelamaan ia bisa meneruskan pekerjaan orang tuanya. Tetapi saat ini hal ini sudah sulit dilakukan. Generasi muda tidak lagi mau menenun, lebih memilih pekerjaan lainnya.

Kondisi ini mendorong seorang mendorong beberapa desainer seperti Ninik Darmawan, kelompok Lawe, PPPPTK Seni dan Budaya untuk mengembangkan produk tekstil dengan bahan dasar lurik untuk diangkat kembali menjadi produkproduk modern, yang tidak hanya terbatas untuk pakian saja, tetapi lurik dijadikan sebagai bahan tas, dompet, map, dan lain sebagainya.

Untuk busana desainer Ninik Darmawan telah mengembangkan beberapa fashion seperti gaun panjang, kemeja pria, rok, jaket, dan sebagainya. Beberapa pakaian merupakan gabungan motif lurik dengan kain batik. Ninik mengembangkan kain tenun lurik tersebut karena kain yang bercorak garis-garis ini memiliki nilai kesederhanaan.

Kain yang tebuat dari bahan katun tersebut sebenarnya juga sangat cocok dengan iklim di Indonesia. Tetapi memang kesan bahwa lurik merupakan pakaian rakyat cukup kental. Apa yang hendak disampaikannya melalui setiap desainnya yaitu bahwa motif lurik ini sebenarnya dapat dikembangkan dan dapat dikenakan di berbagai tempat dan waktu. Menurutnya dengan sentuhan desain, kain tersebut dapat diolah, dikembangkan, dijadikan busana masa kini, tanpa merubah arti atau makna yang terkandung di dalamnya.

Produk-produk tekstil dari bahan lurik dengan desain baru yang indah, tidak kalah menariknya apabila dibandingkan dengan busana-busana dari bahan batik atau bahan lainnya. Ternyata lurik menyimpan kekuatan yang begitu dahsyat, sebagai bagian dari kehidupan masa kini. Apa yang dilakukan Ninik Darmawan, Lawe, dan PPPPTK Seni dan Budaya sebagai suatu bentuk transformasi budaya, yang mengangkat budaya lama Indonesia menjadi suatu budaya baru dengan tidak meninggalkan kekayaan yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.

Tradisi bukanlah suatu barang yang mati, tetapi ia berkembang dan menjelma menjadi ujud baru mengikuti perubahan jaman. Tradisi melayani kebutuhan kehidupan manusia, sehingga tradisi harus sesuai dengan jiwa jamannya, tradisi yang tidak berubah akan menghambat perkembangan dan akan menjadi nilai atau produk yang basi. Dengan demikian seni tradisi seperti lurik harus dapat melayani kehidupan manusia masa kini, sehingga lurik akan lebih bermakna dan bermanfaat bagi kehidupan dari masa ke masa.

Asal Usul Kabupaten Klaten


Ada dua versi yang menyebutkan tentang asal mula nama Klaten, versi yang pertama menyebutkan bahwa kata Klaten berasal dari kata Kelati atau buah bibir. Kemudian seiring perjalanan waktu kata kelati ini mengalami disimilasi menjadi Klaten.

Versi kedua beradasarkan kata orang tua terdahulu dan turun temurun yang dikutip dalam buku berjudul “Klaten dari Masa ke Masa” yang diterbitkan Bagian Ortakala Setda Kab. Dati II Klaten Tahun 1992/1993.

Versi kedua ini menyebutkan bahwa Klaten awal mulanya berasal dari kata Melati, Melati adalah nama seorang Kyai yang datang dan menetap ke tempat yang masih hutan belantara (sekarang menjadi kota Klaten) kurang lebih 560 tahun yang lalu, dan semakin lama orang semakin berdatangan dan berkembang hingga menjadi kota Klaten seperti sekarang ini.

Nama lengkap Kyai Melati adalah Kyai Melati Sekolekan. Dan nama dukuh tempat tinggal Kyai Melati oleh masyarakat kemudian diberi nama dukuh Sekolekan (sekarang menjadi Sekalekan), nama Sekolekan adalah bagian dari nama Kyai Melati Sekolekan.

Kyai Melati dikenal sebagai seorang yang berbudi luhur dan sakti, karena kesaktiannya tersebut perkampungannya selalu aman dari perampok.

Setelah meninggal dunia Kyai Melati dimakamkan di dekat tempat tinggalnya. Makam Kyai Mlati terletak di pusat kota Klaten, tepatnya d JL. Anggrek, Sekalekan, Klaten. Mungkin belum banyak orang yang tau tentang makam kyai melati ini, makam kyai melati ini dikeramatkan oleh warga sekitar karena merupakan asal mula dari klaten sendiri

Di komplek makam Kyai Mlati ini terdapat banyak makam tua. Tapi yang satu petak dengan makam Kyai Mlati terdapat tiga makam yaitu makam Kyai Mlati dan Istrinya, dan makam adek dari Kyai Mlati. Dan di dekat makam tersebut ada pohon yang dikeramatkan juga. Jika dilihat secara sekilas kompleks Makam Kyai Mlati tersebut memang seperti tidak terurus.

Makam Kyai mlati juga hanya diselimuti kain kafan, tidak seperti makam yang lainnya. Makamnyapun tidak seperti makam jaman sekarang, tapi hanya seperti batu bata yang di susun saja. Makam itu memang dibiarkan seperti itu, agar terlihat alami dan masih ada unsur sejarahnya.

Sebenarnya sudah banyak orang yang tahu akan makam Kyai mlati ini. Kebanyakan orang yang datang ke Makam Kyai Mlati ini untuk mohon doa. Menurut kepercayaan orang yang datang kesana, akan terkabul. Tak sembarang orang juga yang memohon doa di makam tersebut. Biasanya orang-orang berdoa disana untuk mendapatkan jabatan, untuk kelulusan ujian, jodoh dan segala macam yang mereka inginkan. Tapi sebelumnya harus percaya dulu dan melakukan ritual kejawen.

Hingga sekarang sejarah kota Klaten masih menjadi silang pendapat, belum ada penelitian yang menyebutkan kapan persisnya kota Klaten berdiri, selama ini peringatan hari jadi kota Klaten diambil dari hari jadi pemerintahan Kabupaten Klaten.

Teori Sosiologi Klasik

Teori sederhana biasanya selalu terungkap di dalam kehidupan kita sehari-hari. Sering kali tanpa sadar kita sesungguhnya telah berteori. Teori muncul karena adanya suatu kebutuhan manusia untuk memberikan penjelasan akan berbagai kenyataan yang ada. Teori lahir karena manusia membutuhkan pengetahuan.

Secara kategoris dapat dikatakan bahwa pengetahuan terdiri atas unsur experiental reality dan agreement reality. Experiental realitiy adalah pengetahuan yang kita dapat berdasar pengalaman kita sehari-hari, sedangkan agreement reality adalah pengetahuan yang kita dapat berdasar kesepakatan bersama.

Jika dalam kehidupan sehari-hari kita bisa mendapatkan pengetahuan dari salah satu unsur yang ada, maka dalam ilmu pengetahuan, pengetahuan didapat dengan mengombinasikan kedua unsur tersebut. Dalam ilmu pengetahuan, pengembangan pengetahuan dilakukan bukan hanya dari pengamatan langsung pada kenyataan, namun melalui proses pengujian dalam pikiran manusia sendiri. Dalam konteks sosiologi, teori diklasifikasi ke dalam tiga paradigma utama, yaitu order paradigm, pluralist paradigm, serta conflict paradigm. Perbedaan dari masing-masing paradigma dilandaskan pada asumsi dasar yang menyertainya dalam hal hakikat dasar manusia, masyarakat, serta ilmu pengetahuan.

Konstruksi Teori

Teori terbentuk berdasar beberapa komponen, yaitu konsep, variabel, serta indikator. Teori sendiri diartikan sebagai sejumlah pernyataan yang terangkai secara sistematis, dan dapat digunakan untuk memberikan penjelasan tentang suatu fenomena atau gejala. Komponen yang ada dengan demikian terangkai di dalam pernyataan. Konsep diartikan sebagai lambang, simbol atau kata yang berarti tentang sesuatu.

Konsep ada yang memiliki unidimensional (dimensi tunggal) dan ada yang multidimensional. Dengan beragamnya konsep, maka perlu adanya definisi dari konsep, yang bisa berbeda antara satu dengan yang lain. Dalam definisi konsep tersebut terkandung dimensi konsep dan juga kelompok konsep (concept cluster). Variabel adalah konsep yang telah memiliki variasi nilai. Variasi nilai dari konsep tersebut kita sebut sebagai kategori. Variabel adalah konsep yang sudah terukur dan bersifat lebih empirik dibanding konsep. Ukuran-ukuran yang bisa digunakan untuk mengukur konsep adalah indikator.

Teori juga dibedakan ke dalam beberapa klasifikasi, yaitu berdasar arah penalarannya kita bedakan antara teori yang menggunakan pendekatan induktif dan teori yang menggunakan pendekatan deduktif, berdasar tingkat kenyataan sosial teori dibedakan menjadi teori mikro, meso, dan makro. Berdasar bentuk penjelasannya, teori dibedakan menjadi teori yang menggunakan penjelasan kausal, teori yang menggunakan penjelasan struktural, serta teori yang menggunakan penjelasan interpretif.

SEJARAH TEORI SOSIOLOGI KLASIK

Kekuatan Sosial dalam Perkembangan Teori Sosiologi
Beberapa kekuatan sosial yang melatarbelakangi munculnya teori-teori sosial dan sekaligus menjadi fokus perhatian para ahli sosial, di antaranya adalah revolusi politik, revolusi industri, perkembangan kapitalisme, perkembangan sosialisme, feminisme, urbanisasi, perubahan agama, serta pertumbuhan ilmu pengetahuan. Perkembangan teori-teori sosial tersebut tidak hanya terjadi di satu negara, tetapi di beberapa negara terutama yang terjadi di kawasan Eropa Barat, di antaranya adalah di Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris.

Perubahan berupa revolusi sosial politik serta kebangkitan kapitalisme membawa dampak-dampak yang tidak saja bersifat positif tetapi juga memunculkan masalah-masalah sosial baru. Hal ini telah memacu para ahli sosial dan filsafat untuk menemukan kaidah-kaidah baru yang terkait dengan perkembangan teori sosial dan sekaligus sebagai suatu upaya dalam memahami dan menanggulangi masalah-masalah sosial tersebut, serta mengarahkan bagaimana bentuk masyarakat yang diharapkan di kemudian hari. Seperti perkembangan kehidupan politik (revolusi Prancis sejak tahun 1789 menjadi cikal bakal perkembangan teori sosiologi di Prancis. Demikian pula, pertumbuhan kapitalisme di Inggris telah memacu munculnya pemikiran-pemikiran baru di bidang sosial.

Kekuatan Intelektual Lahirnya Teori Sosiologi
Beberapa kekuatan sosial yang melatarbelakangi munculnya teori-teori sosial dan sekaligus menjadi fokus perhatian para ahli sosial, di antaranya adalah revolusi politik, revolusi industri, perkembangan kapitalisme, perkembangan sosialisme, feminisme, urbanisasi, perubahan agama, serta pertumbuhan ilmu pengetahuan. Perkembangan teori-teori sosial tersebut tidak hanya terjadi di satu negara, tetapi di beberapa negara terutama yang terjadi di kawasan Eropa Barat, di antaranya adalah di Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris.

Perubahan berupa revolusi sosial politik serta kebangkitan kapitalisme membawa dampak-dampak yang tidak saja bersifat positif tetapi juga memunculkan masalah-masalah sosial baru. Hal ini telah memacu para ahli sosial dan filsafat untuk menemukan kaidah-kaidah baru yang terkait dengan perkembangan teori sosial dan sekaligus sebagai suatu upaya dalam memahami dan menanggulangi masalah-masalah sosial tersebut, serta mengarahkan bagaimana bentuk masyarakat yang diharapkan di kemudian hari. Seperti perkembangan kehidupan politik (revolusi Prancis sejak tahun 1789 menjadi cikal bakal perkembangan teori sosiologi di Prancis. Demikian pula, pertumbuhan kapitalisme di Inggris telah memacu munculnya pemikiran-pemikiran baru di bidang sosial.

PERKEMBANGAN TEORI SOSIOLOGI ABAD KE-20

Teori Sosiologi Menjelang Abad Ke-20
Perkembangan teori sosiologi pada abad ke-20 terjadi cukup pesat di Amerika. Hal ini terdorong oleh sejumlah faktor, di antaranya adalah perubahan sosial masyarakat yang membutuhkan pemecahan berdasarkan bidang ilmu tertentu secara cepat, dan didorong oleh perkembangan ilmu terutama di bidang kemasyarakatan yang mampu mengkaji masyarakat secara ilmiah.

Perkembangan teori sosiologi di Amerika diawali oleh perkembangan keilmuan di dua universitas, yaitu di Chicago University dan Harvard University. Namun demikian, dalam perjalanan waktu, sejalan dengan persebaran para tokoh sosiologi ke beberapa universitas di seluruh negeri, muncul pula universitas-universitas lain yang dianggap mampu melahirkan beberapa teori penting dalam bidang sosiologi, seperti Columbia University dan University of Michigan.

Di Chicago University dikenal adanya sekelompok pemikir sosial yang disebut kelompok Chicago School. Tokoh-tokoh sosiologi yang penting dari tempat ini adalah W.I. Thomas, Robert Park, Charles Horton Cooley, George Herbert Mead, dan Everett Hughess. Di Harvard University, sosiologi berkembang melalui tokoh-tokoh seperti Talcott Parsons, Robert K. Merton, Kingsley Davis, dan George Homans. Di samping itu, perkembangan teori sosiologi di Amerika juga sedikitnya terpengaruh oleh sebuah teori yang sering disebut-sebut sebagai teori di luar mainstream sosiologi di Amerika, yaitu khasanah pemikiran dari kelompok teori Marxian.

Pengetahuan perkembangan teori di Amerika sangat penting mengingat teori-teori yang berkembang di Amerika ini kemudian menjadi pusat perhatian dunia pada tahun 1960-an dan 1970-an. Sejalan dengan teori interaksionisme simbolik, bangkit pula teori pertukaran (exchange theory) yang dikembangkan oleh George Homans berdasarkan pemikiran psychological behaviorism dari B.F. Skinner.

Teori Sosiologi Setelah Pertengahan Abad 20
Perkembangan teori struktural-fungsional terlihat dari hasil karya para penerus Parsons yang diakui telah menyumbang teori struktural fungsional, seperti karya Kingsley Davis dan Wilbert Moore. Pandangannya menerangkan bahwa stratifikasi adalah suatu struktur yang secara fungsional diperlukan bagi keberadaan masyarakat. Merton pun (1949) menjelaskan bahwa struktural fungsional harus menangani fungsi positif dan konsekuensi yang negatif (disfunctions).

Seperti teori umumnya, teori struktural fungsional pun mendapat kritikan dari beberapa ahli lainnya. Bahkan menjelang tahun 1960, dominasi struktural fungsional dianggap telah mengalami kemerosotan. Puncak dan kemerosotan dominasi struktural fungsional sejalan dengan kedudukan (dominasi) masyarakat Amerika di dalam tatanan dunia.

Sejalan dengan perkembangan teori sturktural-fungsional, terdapat teori konflik sebagai karya Peter Blau, yang dianggap menjadi cerminan dari teori struktural-fungsional. Padahal pada awalnya Blau dapat dikatakan sebagai pengembang teori marxian. Hampir mirip dengan karya Blau, dalam analisis marxian, adalah karya Mill mengenai sosiologi radikal.

Pada tahun 1950-an, Mills menulis sebuah buku yang mengkaji masalah revolusi komunis di Kuba dan pada tahun 1962 menerbitkan buku berjudul The Marxists. Keradikalan Mills dalam mengungkap fenomena sosial menjadikannya ia tersingkir dan menjadi ahli pinggiran dalam kancah sosiologi Amerika. Bukunya yang terkenal adalah The Sociological Imagination (1959). Isi buku tersebut diantaranya adalah upaya kritik Mills terhadap Talcott Parsons.

Perkembangan selanjutnya adalah teori pertukaran (exchange theory) yang dikembangkan berdasarkan pemikiran psychological behaviorism. Dalam suasana kemunduran teori interaksionisme simbolik Goffman mampu menempatkan pemikirannya sebagai awal kemunculan analisis dramaturgi yang dianggap sebagai varian dari interaksionisme simbolik.

Pada tahun 1960-an dan tahun 1970-an muncul teori-teori sosiologi yang dikenal dengan perspektif sosiologi kehidupan sehari-hari (sociology of everyday life), yang dikenal pula dengan nama sosiologi fenomenologis dan etnometodologi. Sedangkan perkembangan teori sosiologi pada dekade 1980-an dan 1990-an di antaranya adalah teori integrasi mikro-makro (micro-macro integration), integrasi struktur-agensi (agency-structure integration), sintesis teoritis (theoritical syntheses), dan metateori (metatheorizing).

MENGENAL DIRI DAN PEMIKIRAN AUGUSTE COMTE (1798-1857)

Perjalanan Hidup dan Karya Comte serta Pandangannya tentang Ilmu Pemgetahuan. Auguste Comte adalah seseorang yang untuk pertama kali memunculkan istilah “sosiologi” untuk memberi nama pada satu kajian yang memfokuskan diri pada kehidupan sosial atau kemasyarakatan. Saat ini sosiologi menjadi suatu ilmu yang diakui untuk memahami masyarakat dan telah berkembang pesat sejalan dengan ilmu-ilmu lainnya. Dalam hal itu, Auguste Comte diakui sebagai “Bapak” dari sosiologi.

Auguste Comte pada dasarnya bukanlah orang akademisi yang hidup di dalam kampus. Perjalanannya di dalam menimba ilmu tersendat-sendat dan putus di tengah jalan. Berkat perkenalannya dengan Saint-Simon, sebagai sekretarisnya, pengetahuan Comte semakin terbuka, bahkan mampu mengkritisi pandangan-pandangan dari Saint-Simon. Pada dasarnya Auguste Comte adalah orang pintar, kritis, dan mampu hidup sederhana tetapi kehidupan sosial ekonominya dianggap kurang berhasil.

Pemikirannya yang dikenang orang secara luas adalah filsafat positivisme, serta memberikan gambaran mengenai metode ilmiah yang menekankan pada pentingnya pengamatan, eksperimen, perbandingan, dan analisis sejarah.

Pemikiran Auguste Comte Tentang Individu, Masyarakat, dan Perubahan Sosial
Perkembangan masyarakat pada abad ke-19 menurut Comte dapat mencapai tahapan yang positif (positive stage). Tahapan ini diwarnai oleh cara penggunaan pengetahuan empiris untuk memahami dunia sosial sekaligus untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik.

Sosiologi adalah menyelidiki hukum-hukum tindakan dan reaksi terhadap bagian-bagian yang berbeda dalam sistem sosial, yang selalu bergerak berubah secara bertahap. Hal ini merupakan hubungan yang saling menguntungkan (mutual relations) di antara unsur-unsur dalam suatu sistem sosial secara keseluruhan.

Penjelasan mengenai gejala sosial, menurut Comte dapat diperoleh melalui 1) kajian terhadap struktur masyarakat berdasarnya konsep statika sosial, dan 2) kajian perubahan atau perkembangan masyarakat berdasarkan konsep Comte yang disebut dinamika sosial (social dynamics). Comte mendefinisikan statika sosial sebagai kajian terhadap kaidah-kaidah tindakan (action) dan tanggapan terhadap bagian-bagaian yang berbeda dalam suatu sistem sosial (Ritzer, 1996). Sedangkan dinamika sosial adalah studi yang berupaya mencari kaidah-kaidah tentang gejala-gejala sosial di dalam rentang waktu yang berbeda. Berbeda dengan itu, statika sosial hanya mencari kaidah- kaidah gejala sosial yang bersamaan waktu terjadinya.

HERBERT SPENCER

Riwayat HIdup dan Awal Karir Herbert Spencer
Herbert Spencer adalah seorang filsuf, sosiolog pengikut aliran sosiologi organis, dan ilmuwan pada era Victorian yang juga mempunyai kemampuan di bidang mesin. Pemuda Spencer pada usia 17 tahun diterima kerja di bagian mesin untuk perusahaan kereta api London dan Birmingham. Kariernya bagus sehingga dipercaya sebagai wakil kepala bagian mesin. Setelah beberapa waktu lamanya bekerja di perusahaan kereta api, kemudian pindah pekerjaan menjadi redaktur majalah The Economist yang saat itu terkenal.

Spencer mempunyai sebuah kemampuan yang luar biasa dalam hal mekanik. Hal ini akan ikut serta mewarnai seluruh imajinasinya tentang biologi dan sosial di masa yang akan datang. Spencer adalah seorang pembaca yang luar biasa, kolektor yang tekun mengumpulkan fakta-fakta mengenai masyarakat di manapun di dunia ini, dan penulis yang produktif. Ia mengembangkan sistem filsafat dengan aspek-aspek utiliter dan evolusioner. Spencer membangun utiliterisme jeremy Bentham. Spencerlah yang menggunakan istilah Survival of the fittest pertama kali dalam karyanya Social Static (1850) yang kemudian dipopulerkan oleh Charles Darwin. Spencer selain menerbitkan buku lepas, juga menerbitkan buku dan artikel berseri. Beberapa diantaranya adalah Programme of a System of Synthetic Philosophy (1862-1896) yang meliputi biologi, psikologi, dan etika.

Spencer mempopulerkan konsep ‘yang kuatlah yang akan menang’ (Survival of the fittest) terhadap masyarakat. Pandangan Spencer ini kemudian dikenal sebagai ‘Darwinisme sosial’ dan banyak dianut oleh golongan kaya (Paul B Horton dan Chester L. Hunt, Jilid 2 1989: 208).

Terbitnya buku Principles of Sociology karya Herbert Spencer yang berisi pengembangan suatu sistematika penelitian masyarakat telah menjadikan sosiologi menjadi populer di masyarakat dan berkembang pesat. Sosiologi berkembang pesat pada abad 20, terutama di Perancis, Jerman, dan Amerika

Pandangan Herbert Spencer tentang Sosiologi
Spencer adalah orang yang pertama kali menulis tentang masyarakat atas dasar data empiris yang konkret. Tindakan ini kemudian diikuti oleh para sosiolog sesudahnya, baik secara sadar atau tidak sadar.

Spencer memperkenalkan pendekatan baru sosiologi yaitu merekonsiliasi antara ilmu pengetahuan dengan agama dalam bukunya First Prinsciple. Dalam bukunya ini Spencer membedakan fenomena tersebut dalam 2 fenomena yaitu fenomena yang dapat diketahui dan fenomena yang tidak dapat diketahui. Di sini Spencer kemudian mencoba menjembatani antara ilham dengan ilmu pengetahuan.

Selanjutnya Spencer memulai dengan 3 garis besar teorinya yang disebut dengan tiga kebenaran universal, yaitu adanya materi yang tidak dapat dirusak, adanya kesinambungan gerak, dan adanya tenaga dan kekuatan yang terus menerus.

Di samping tiga kebenaran universal tersebut di atas, menurut Spencer ada 4 dalil yang berasal dari kebenaran universal, yaitu kesatuan hukum dan kesinambungan, transformasi, bergerak sepanjang garis, dan ada sesuatu irama dari gerakan.

Spencer lebih lanjut mengatakan bahwa harus ada hukum yang dapat menguasai kombinasi antara faktor-faktor yang berbeda di dalam proses evolusioner. Sedang sistem evolusi umum yang pokok menurut Spencer seperti yang dikutip Siahaan, ada 4 yaitu ketidakstabilan yang homogen, berkembangnya faktor yang berbeda-beda dalam ratio geometris, kecenderungan terhadap adanya bagian-bagian yang berbeda-beda dan terpilah-pilah melalui bentuk-bentuk pengelompokan atau segregasi, dan adanya batas final dari semua proses evolusi di dalam suatu keseimbangan akhir.

Spencer memandang sosiologi sebagai suatu studi evolusi di dalam bentuknya yang paling kompleks. Di dalam karyanya, Prinsip-prinsip Sosiologi, Spencer membagi pandangan sosiologinya menjadi 3 bagian yaitu faktor-faktor ekstrinsik asli, faktor intrinsik asli, faktor asal muasal seperti modifikasi masyarakat, bahasa, pengetahuan, kebiasaan, hukum dan lembaga-lembaga.

Giddings pada tahun 1890 meringkas ajaran sistem sosial yang telah disepakati oleh Spencer sendiri adalah sebagai berikut:

1. Masyarakat adalah organisme atau superorganis yang hidup berpencar-pencar.
2. Antara masyarakat dan badan-badan yang ada di sekitarnya ada suatu equilibrasi tenaga agar kekuatannya seimbang.
3. Konflik menjadi suatu kegiatan masyarakat yang sudah lazim.
4. Rasa takut mati dalam perjuangan menjadi pangkal kontrol terhadap agama.
5. Kebiasaan konflik kemudian diorganisir dan dipimpin oleh kontrol politik dan agama menjadi militerisme.
6. Militerisme menggabungkan kelompok-kelompok sosial kecil menjadi kelompok sosial lebih besar dan kelompok-kelompok tersebut memerlukan integrasi sosial.
7. Kebiasaan berdamai dan rasa kegotongroyongan membentuk sifat, tingkah laku serta organisasi sosial yang suka hidup tenteram dan penuh rasa setia kawan.

Teori Herbert Spencer tenang Evolusi Masyarakat, Etika, dan Politik
Evolusi secara umum adalah serentetan perubahan kecil secara pelan-pelan, kumulatif, terjadi dengan sendirinya, dan memerlukan waktu lama. Sedang evolusi dalam masyarakat adalah serentetan perubahan yang terjadi karena usaha-usaha masyarakat tersebut untuk menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Perspektif evolusioner adalah perspektif teoretis paling awal dalam sosiologi. Perspektif evolusioner pada umumnya berdasarkan pada karya August Comte (1798-1857) dan Herbert Spencer (1820-1903).

Menurut Spencer, pribadi mempunyai kedudukan yang dominan terhadap masyarakat. Secara generik perubahan alamiah di dalam diri manusia mempengaruhi struktur masyarakat sekitarnya. Kumpulan pribadi dalam kelompok/masyarakat merupakan faktor penentu bagi terjadinya proses kemasyarakatan yang pada hakikatnya merupakan struktur sosial dalam menentukan kualifikasi.

Spencer menempatkan individu pada derajat otonomi tertentu dan masyarakat sebagai benda material yang tunduk pada hukum umum/universal evolusi. Masyarakat mempunyai hubungan fisik dengan lingkungan yang mengakomodasi dalam bentuk tertentu dalam masyarakat.

Darwinisme sosial populer setelah Charles Darwin menerbitkan buku Origin of Species (1859), 9 tahun setelah Spencer memperkenalkan teori evolusi universalnya. Ia memandang evolusi sosial sebagai serangkaian tingkatan yang harus dilalui oleh semua masyarakat yang bergerak dari tingkat yang sederhana ke tingkat yang lebih rumit dan dari tingkat homogen ke tingkat heterogen.

Semua teori evolusioner menilai bahwa perubahan sosial memiliki arah tetap yang dilalui oleh semua masyarakat. Perubahan sosial ditentukan dari dalam (endogen). Evolusi terjadi pada tingkat organis, anorganis, dan superorganis.

Evolusi pada sosiologi mempunyai arti optimis yaitu tumbuh menuju keadaan yang sempurna, kemajuan, perbaikan, kemudahan untuk perbaikan hidupnya. Pandangan-pandangan sosiologi Spencer sangat dipengaruhi oleh pesatnya kemajuan ilmu biologi, terutama beberapa ahli biologi berikut ini dan pandangannya:

1. Pelajaran tentang sifat keturunan (descension) Lamarck (1909).
2. Teori seleksi dari Darwin (1859).
3. Teori tentang penemuan sel.

Membandingkan masyarakat dengan organisme, Spencer mengelaborasi ide besarnya secara detil pada semua masyarakat sebelum dan sesudahnya. Spencer menitikberatkan pada 3 kecenderungan perkembangan masyarakat dan organisme:

1. pertumbuhan dalam ukurannya,
2. meningkatnya kompleksitas struktur, dan
3. diferensiasi fungsi.

Teori tentang evolusi dapat dikategorikan ke dalam 3 kategori yaitu:

1. Unilinear theories of evolution.
2. Universal theory of evolution.
3. Multilined theories of evolution.

Spencer telah menggabungkan secara konsisten tentang etika, moral dan pekerjaan, terutama dalam bukunya The Principles of Ethics (1897/1898). Isu pokoknya adalah apakah etika dan politik menguntungkan atau merugikan sosiologi. Idenya adalah untuk memperluas metodologi individunya dan memfokuskan diri pada fernomena level makro berdasarkan pada fenomena individu sebagai unit.

Karakteristik orang dalam asosiasi negara diperoleh dari yang melekat pada tubuh, hukum, dan lingkungannya. Kedekatan individu adalah pada moral sosial dan yang lebih jauh adalah ketuhanan. Oleh karena itu orang melihat moral sebagai jalan hidup kebenaran yang hebat.

KARL MARX

Marx, Kapitalisme, dan Komunisme
Karl Marx tidak semata-mata menjadi seorang komunis dengan begitu saja. Banyak tokoh yang ikut andil dan berperan dalam menjadikan Marx seorang yang berpandangan komunisme, antara lain Hegel, Feuerbach, Smith, juga Engels. Keempatnya, terutama filsafatnya Hegel, Feuerbach dan Engels, sangat kental mewarnai pemikiran Marx. Secara spesifik memang filsafatnya Hegel, yaitu yang berkaitan dengan konsep dialektik, menjadi titik tolak pemikiran Marx meskipun Marx mengkritisi filsafat itu karena dianggapnya sangat idealistik dan memiliki konsep yang terbalik. Marx sendiri mengemukakan konsep dialektika materialistik yang mengacu kepada berbagai struktur sosial yang di dalamnya tercermin konflik sosial dan juga menggambarkan upaya-upaya pembebasan atas eksploitasi para majikan kepada kaum buruh dalam semua proses produksi.

Marx, juga menyoroti perkembangan dan kebangkitan kapitalisme, di mana pandangan-pandangannya dianggap identik dengan gerakan pembebasan kaum buruh yang miskin dan tertindas oleh mereka yang memiliki berbagai sarana produksi, yaitu kaum borjuis. Konflik atau pertentangan kelas serta upaya-upaya pembebasan inilah yang menjadi titik sentral ajarannya Marx.

Dialektika dan Struktur Masyarakat Kapitalis
Perkembangan pemikiran Marx memang tidak lepas dari pengaruh filsuf-filsuf hebat seperti Hegel, Feuerbach, Smith, juga Engels. von Magnis membagi lima tahap perkembangan pemikiran marx yang dibedakan ke dalam pemikiran ‘Marx muda’ (young Marx) dan ‘Marx tua’ (mature Marx). Gagasan dan pemikirannya terutama diawali dengan kajiannya terhadap kritik Feuerbach atas konsep agamanya Hegel yang berkaitan dengan eksistensi atau keberadaan Tuhan. Marx yang materialistik benar-benar menolak konsep Hegel yang dianggapnya terlalu idealistik dan tidak menyentuh kehidupan keseharian.

Bagi Marx, agama hanya sekedar realisasi hakikat manusia dalam imajinasinya belaka, agama hanyalah pelarian manusia dari penderitaan yang dialaminya. Agama inilah yang merupakan simbol keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Marx mengadopsi sekaligus mengkritisi dialektikanya Hegel yang dianggapnya tidak realistik itu. Marx juga menganggap filsafatnya Hegel, yang idealistik itu, memiliki konsep yang terbalik.

Atas hal ini, Marx mengemukakan konsep dialektika materialistik yang mengacu kepada berbagai konsep struktur sosial. Dimana di dalamnya tercermin konflik sosial dengan yang menggambarkan upaya-upaya pembebasan atas eksploitasi para majikan kepada kaum buruh dalam semua proses produksi yang melibatkan dua kelas sosial yang berbeda, proletar dan borjuis. Kelas sosial inilah yang nantinya harus tidak ada karena, menurut Marx, pada suatu saat akan terwujud masyarakat komunisme; yaitu masyarakat sosialis karena runtuhnya kapitalisme, di mana di dalamnya tidak ada lagi kelas-kelas sosial dan tidak ada lagi hak kepemilikan pribadi. Inilah masyarakat yang menjadi obsesi Marx. Untuk mewujudkan hal ini, menurutnya, perlulah dilakukan analisis terhadap sistem ekonomi kapitalis.

EMILE DURKHEIM

Durkheim dan Fakta Sosial
Durkheim yang dikenal taat pada agama tetapi sekuler itu, dalam perjalanan ‘karirnya’ dipengaruhi oleh tokoh-tokoh filsafat dan sosiologi, seperti Montesquieu, Rosseau, Comte, Tocquueville, Spencer, dan Marx. Durkheim menyoroti solidaritas sosial sampai patologi sosial yang juga mengkaji tentang kesadaran bersama, morfologi sosial, solodaritas mekanik dan organik, perubahan sosial, fungsi-fungsi sosial, termasuk solidaritas dan patologi sosial. Durkheim memang berangkat dari asumsi bahwa sosiologi itu merupakan studi mengenai berbagai fakta sosial di mana di dalamnya ia menguraikan mengenai konsep sosiologinya serta berbagai karakteristik dari fakta-fakta sosial dimaksud.

Ia juga menjelaskanmengenai cara-cara mengobservasi berbagai fakta sosial dengan melakukan analisi sosiologis. Sedangkan mengenai fenomena moralitas yang menyangkut berbagai keyakinan, nilai-nilai, dan dogma-dogma (yang membentuk realitas metafisik) ia dekati juga dengan menggunakan metode ilmu pengetahuan. Durkheim memang sepaham dengan pemikiran Comte bahwa ilmu pengetahuan itu haruslah dapat membuat manusia hidup nyaman. Upayanya untuk memahami berbagai fenomena bunuh diri melahirkan salah satu karya besarnya Suicide (’Bunuh Diri’)

Bunuh Diri, Agama, dan Moralitas
Bagi Durkheim, bunuh diri, yang bermacam-macam bentuk (egoistic suicide, altruistic suicide, anomic suicide, dan fatalistic suicide), itu memang merupakan penyimpangan perilaku seseorang. Bagaimana bunuh diri itu terjadi atau dilakukan oleh seseorang, menurut Durkhiem, disebabkan oleh benturan dua kutub integrasi dan regulasi di mana kuat dan lemahnya kedua kutub itu akan menyebabkan orang melakukan bunuh diri.

Di sinilah, begitu Durkheim menekankan, pentingnya agama bagi seseorang untuk menghindarkan dari berbagai penyimpangan yang mungkin terjadi. di mana unsur-unsur esensial dari agama itu mencakup berbagai mitos, dogma, dan ritual, yang kesemuanya merupakan fenomena religius yang dihadapi manusia. Dalam kaitan ini, ada hal-hal yang sifatnya ’suci’ (sacred) dan juga ada hal-hal yang sifatnya ‘tidak suci’ (profane) yang pemisahan antara keduanya menunjukkan kepada pemikiran-pemikiran religius yang dilakukan manusia. Harus diperhatikan bahwa di dalam agama, khususnya yang menyangkut ritual keagamaan, ada yang dinamakan ritual negatif dan juga ritual positif. Bagi Durkheim, moralitas itu merupakan suatu aturan yang merupakan patokan bagi tindakan dan perilaku manusia (juga dalam berinteraksi). Konsepnya mengenai moralitas ini merujuk pada apa yang dinamakan norms (norma-norma) dan rules (aturan-aturan) yang harus dijadikan acuan dalam berinteraksi.

MAX WEBER

Riwayat Hidup dan Sosiologi Max Weber
Max Weber adalah seorang sosiolog besar yang ahli kebudayaan, politik, hukum, dan ekonomi. Ia dikenal sebagai seorang ilmuwan yang sangat produktif. Makalah-makalahnya dimuat di berbagai majalah, bahkan ia menulis beberapa buku. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1904) merupakan salah satu bukunya yang terkenal. Dalam buku tersebut dikemukakan tesisnya yang sangat terkenal, yaitu mengenai kaitan antara Etika Protestan dengan munculnya Kapitalisme di Eropa Barat.

Sejak Weber memperkenalkannya pada tahun 1905 tesis yang memperlihatkan kemungkinan adanya hubungan antara ajaran agama dengan perilaku ekonomi, sampai sekarang masih merangsang berbagai perdebatan dan penelitian empiris. Tesisnya dipertentangkan dengan teori Karl Marx tentang kapitalisme, demikian pula dasar asumsinya dipersoalkan, kemudian ketepatan interpretasi sejarahnya juga digugat. Samuelson, ahli sejarah ekonomi Swedia, tanpa segan-segan menolak dengan keras keseluruhan tesis Weber. Dikatakannya dari penelitian sejarah tak bisa ditemukan dukungan untuk teori Weber tentang kesejajaran doktrin Protestanisme dengan kapitalisme dan konsep tentang korelasi antara agama dan tingkah laku ekonomis. Hampir semua bukti membantahnya.

Weber sebenarnya hidup tatkala Eropa Barat sedang menjurus ke arah pertumbuhan kapitalisme modern. Situasi sedemikian ini barangkali yang mendorongnya untuk mencari sebab-sebab hubungan antar tingkah laku agama dan ekonomi, terutama di masyarakat Eropa Barat yang mayoritas memeluk agama Protestan. Apa yang menjadi bahan perhatian Weber dalam hal ini sesungguhnya juga sudah menjadi perhatian Karl Marx, di mana pertumbuhan kapitalisme modern pada masa itu telah menimbulkan keguncangan-keguncangan hebat di lapangan kehidupan sosial masyarakat Eropa Barat.

Marx dalam persoalan ini mengkhususkan perhatiannya terhadap sistem produksi dan perkembangan teknologi, yang menurut beliau akibat perkembangan itu telah menimbulkan dua kelas masyarakat, yaitu kelas yang terdiri dari sejumlah kecil orang-orang yang memiliki modal dan yang dengan modal yang sedemikian itu lalu menguasai alat-alat produksi, di satu pihak dan orang-orang yang tidak memiliki modal/alat-alat produksi di pihak lain. Golongan pertama, yang disebutnya kaum borjuis itu, secara terus menerus berusaha untuk memperoleh untung yang lebih besar yang tidak di gunakan untuk konsumsi, melainkan untuk mengembangkan modal yang sudah mereka miliki.

Muncul dan berkembangnya Kapitalisme di Eropa Barat berlangsung secara bersamaan dengan perkembangan Sekte Calvinisme dalam agama Protestan. Argumennya adalah ajaran Calvinisme mengharuskan umatnya untuk menjadikan dunia tempat yang makmur. Hal itu hanya dapat dicapai dengan usaha dan kerja keras dari individu itu sendiri.

Ajaran Calvinisme mewajibkan umatnya hidup sederhana dan melarang segala bentuk kemewahan, apalagi digunakan untuk berpoya-poya. Akibat ajaran Kalvinisme, para penganut agama ini menjadi semakin makmur karena keuntungan yang mereka perolehnya dari hasil usaha tidak dikonsumsikan, melainkan ditanamkan kembali dalam usaha mereka. Melalui cara seperti itulah, kapitalisme di Eropa Barat berkembang. Demikian menurut Weber.